Selama masa pandemi Covid-19, tingkat stres dan kecemasan di tengah masyarakat mengalami peningkatan mengingat akibat dari pembatasan ruang gerak dan masalah lainnya. Untuk itulah Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha menggelar Web Seminar (Webinar) yang bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat yang mengalami masalah berhubungan dengan perasaan cemas pada masa pandemi.

Webinar ini membahas dua teknik terapi yang telah dibuktikan hasilnya secara sains oleh para ahli, yaitu Acceptance and Commitment Therapy (ACT) dan Religious Coping (Rcope). Acara yang terbuka untuk profesional dan umum ini berlangsung pada Kamis, 23 Juli 2020 melalui platform Zoom.

Materi ACT dibawakan oleh dosen dari California Baptist University, Prof. Virgo Handojo, Ph.D., CFLE. Dosen yang ahli dalam bidang marriage and families studies ini mengatakan,ACT digunakan kepada klien untuk belajar menerima perasaan pada beberapa situasi yang tidak dapat dicegah. Klien diharapkan dapat menerima perasaan itu sebagai sebuah respons yang wajar agar dapat terus menjalani hidup. Pada seminar ini, para peserta mempelajari dampak dari pandemi pada kesehatan mental, khususnya pada konteks kasus di Amerika Serikat, dan cara mengaplikasikan terapi ini untuk mengobati pasien dalam kerangka pendekatan ACT.

Prof. Virgo menjelaskan, kecemasan dan depresi yang muncul selama pandemi disebabkan oleh kurangnya sense of approval seseorang dalam menangani fakta bahwa wabah ini memang benar terjadi dan berbahaya. “Sesuatu yang misteri atau unexplainable membuat orang anxiety dan berdampak pada ekonomi, lockdown, tidak bisa berkomunikasi, kehilangan pekerjaan, dan membuat tingkat depresi menjadi naik,” tuturnya.

Fokus dari ACT menurutnya adalah memfasilitasi dan menolong seseorang untuk memiliki hidup yang bermakna meskipun masih bergumul dengan kegelisahan dan masalah lainnya. Tujuannya bukan untuk sembuh dari masalah, tetapi hidup dengan sesuatu yang tidak mengenakan di dalam hidup. “ACT memfasilitasi klien untuk melakukan tiga hal, yaitu menerima pikiran dan perasaan diri mereka sendiri dan orang lain dengan belas kasihan, memilih arah dan tujuan berharga untuk kehidupan, serta mengambil tindakan untuk berkomitmen menjalani kehidupan yang mereka hargai,” jelasnya.

Dekan Fakultas Psikologi UK Maranatha, Dr. Yuspendi, M.Psi., M.Pd., Psikolog, kemudian melanjutkan materi dengan membahas topik tentang RCope. RCope sendiri merupakan bentuk respons kognitif, emosional, dan perilaku terhadap stres dengan diberikan suatu kerangka religius.

“Dari penelitian kita menemukan bahwa religiositas itu berkaitan dengan kesehatan mental.Jadi, semakin seseorang religius diharapkan kesehatan mentalnya semakin tinggi. Karena ternyata religius membantu seseorang sebagai pertahanan imun dalam melawan kecemasan, keraguan, dan konflik dalam diri,” jelasnya. Pada penelitian lain, Yuspendi mengatakan, dalam suatu penelitian ditemukan bahwa orang dengan religiositas yang baik cenderung tidak memiliki banyak penyakit, lebih panjang umur, lebih cepat pulih dari sakit, dan lebih tahan terhadap rasa sakit. (sg/gn)

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 7 August 2020