Indonesia sebagai negara yang kaya dengan keberagaman budaya, suku, dan agama, saat ini cukup rentan dengan konflik-konflik perbedaan. Pendeta Universitas Kristen Maranatha, Pdt. Hariman A. Pattianakota, M.Th. memandang konflik ini terjadi akibat persoalan stigma atau pelabelan bersifat negatif yang diberikan kepada seseorang atau komunitas tertentu didasarkan pada prasangka atau prejudice. Untuk membuka pola pikir generasi muda, khususnya bagi para mahasiswa, Pusat Kajian Kebinekaan dan Perdamaian (PKKP),dan Peace Club Universitas Kristen Maranatha menggelar webinarBreak the Stigma, We Are One” yang diselenggarakan melalui Zoom pada Jumat, 7 Mei 2021.

Pdt. Hariman yang juga merupakan Ketua PKKP menjelaskan bahwa stigma memberikan dampak buruk yang luar biasa, yaitu mampu merusak relasi dengan kelompok lain, melahirkan kekerasan, bahkan bisa terjadi dehumanisasi atau menghilangkan harkat manusia. “Persoalan stigmatisasi, diskriminasi, dan kekerasan mesti kita atasi, salah satunya melalui agama. Saya meyakini dan percaya bahwa agama memang pada satu sisi memiliki sisi gelap, tetapi kebanyakan agama itu mengajarkan virtue atau kebajikan, inspirasi untuk membangun peradaban,” jelasnya.

Untuk membangun relasi yang baik serta bebas stigma, diskriminasi, dan kekerasan, Hariman menyebutkan bahwa setidaknya dibutuhkan 3P, yaitu pendidikan keberagaman untuk menumbuhkan sikap toleransi dan menghargai satu dengan yang lain, memperluas pergaulan agar membangun pemahaman bersama, dan perlu bergiat dalam pekerjaan-pekerjaan kolaboratif. “Melalui PKKP dan Peace Club UK Maranatha, kita berharap dapat meningkatkan spirit motivasi bersama, dan melalui webinar ini yang didukung oleh Jakatarub atau Jaringan Kerja Antar-Umat Beragama yang ada di Bandung, kita bisa terus bergiat menumbuhkan semangat toleransi di antara kita,” ucap Hariman.

Pembicara selanjutnya menghadirkan staf khusus Kepresidenan Republik Indonesia, Gracia Josaphat Jobel Mambrasar atau yang lebih dikenal sebagai Billy Mambrasar. Billy sendiri merupakan pengusaha muda asal Papua dan pendiri Yayasan Kitong Bisa Learning Center (KBLC), sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan bagi anak-anak Papua yang kurang beruntung. Menurutnya, keberagaman Indonesia dianggap sebagai ancaman bagi kelompok tertentu yang memiliki perspektif bahwa mengelola suatu kelompok masyarakat yang seragam atau homogen akan lebih mudah dibandingkan sebaliknya.

“Dari pengalaman, saya melihat bahwa keberagaman di Indonesia bukanlah sebuah ancaman seperti yang ditakutkan sejumlah orang, tetapi merupakan kekayaan yang harus dijaga dan diwariskan turun-temurun. Tanpa usaha-usaha menjaga keberagaman itu, maka akan terjadi konflik antar sub-keberagaman yang berbeda,” jelas Billy

Pembicara terakhir menghadirkan Mohammad Aan Anshori, seorang penggiat kegiatan advokasi terhadap isu-isu kemanusiaan, pengajar Religion dan Pancasila di Universitas Ciputra Surabaya, dan Koordinator Jaringan Islam Anti-Diskriminasi (JIAD) Jawa Timur. Aan mengatakan, manusia secara alamiah didorong untuk meyakini identitasnya sebagai yang paling utama, dan menganggap beberapa identitas lain tidak setara dan bahkan dianggap musuh yang harus ditaklukkan. Hal itu menjadikan manusia lebih mudah memberikan bias, stigma atau stereotip negatif, dan prasangka kepada komunitas yang berbeda.

Akibatnya akan menimbulkan diskriminasi yang bisa berkembang menjadi tindakan kekerasan, baik moderat maupun ekstrem.“Saya memegang prinsip ‘Tell me and I will forget; show me and I will remember; involve me and I will understand’. Jadi menurut saya, melawan stigma itu bukan pekerjaan sulit, tetapi membutuhkan keteladanan. Jangan takut untuk memperjuangkan kebinekaan dan melawan stigma,” jelas Aan. (sg/gn)

 

Foto: dok. Badan Pelayanan Kerohanian

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 28 May 2021