Gaya berbusana atau fashion terus mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu dan memicu munculnya tren-tren baru. Hal ini membuat minat masyarakat terhadap fashion kemudian turut meningkat, khususnya di kalangan remaja yang cenderung ingin mencoba hal-hal baru dan menggunakan fashion sebagai media berekspresi. Untuk mengakomodir minat remaja tersebut, Program Diploma Seni Rupa dan Desain (SRD) konsentrasi Fashion Design Universitas Kristen Maranatha melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) tentang dasar-dasar ‘basic’ fashion kepada siswa SMP Santa Ursula Bandung.

Kegiatan kerja sama PKM dalam bentuk ekstrakurikuler ini berlangsung dalam bentuk implementasi kepakaran dengan merancang rangkaian sistem pembelajaran bagi peserta dengan usia sekolah menengah dasar. Proses pembelajaran berlangsung secara bertahap dalam 15 kali pertemuan dengan durasi satu jam. Kegiatan berlangsung setiap hari Jumat pada bulan Agustus hingga Desember 2020 secara daring.

Materi pembelajaran basic fashion terbagi dalam empat konten yang bertahap tingkat kesulitannya, yaitu ilustrasi fashion, padu padan busana atau fashion styling, jahit kreasi, dan pembuatan produk kreatif. Seluruh materi pembelajaran diberikan oleh dosen-dosen dari Program Diploma SRD UK Maranatha.

Yosepin Sri Ningsih, S.Ds., M.Ds. yang membawakan konten ilustrasi fashion membahas materi dasar dalam membuat ilustrasi menggunakan alat gambar sederhana seperti pensil, spidol, pensil warna. Penggunaan barang-barang bekas, seperti kertas, kemasan, dan benda-benda lain yang sudah tidak terpakai juga menjadi bagian dari bahan ajarnya.

Konten kedua, yaitu fashion styling oleh Grace Carolline, S.Ds., M.Ds. mengajarkan tentang memahami cara memadu dan memadankan busana dan aksesoris yang mereka miliki di rumah, dengan kemasan style casual, smart casual, dan party.

Selanjutnya, materi jahit kreasi yang dibawakan oleh Wenny Anggraini Natalia, A.Md., S.Sn. menekankan pada teknik jahit dasar yang umumnya digunakan dalam membuat produk dan juga membuat aksesoris.

Terakhir, materi pembuatan produk kreatif yang disampaikan oleh Dra. Tan, Indra Janty menghasilkan produk aksesoris berupa tas menggunakan kain perca. Proses diawali dengan pembuatan sketsa produk, pemilihan kain perca, penjahitan produk, dan photoshoot.

“Media pembelajaran seperti peralatan dan material menggunakan pendekatan busana dan mode berkelanjutan atau sustainable fashion, sehingga sebisa mungkin menggunakan bahan-bahan yang sudah dimiliki dan mudah diperoleh dari rumah masing-masing siswa,” jelas Grace.

SMP Santa Ursula Bandung sebagai mitra dalam pengabdian ini sendiri menggunakan sistem pendidikan entrepreneurship yang mengajarkan siswa didiknya untuk berpikir kritis, melatih kreativitas, bekerja secara kolaboratif, dan dapat mengomunikasikan idenya dengan baik. Harapannya para siswa SMP Santa Ursula yang mengikuti ekstrakurikuler basic fashion ini bisa memahami unsur-unsur dasar dalam fashion dan memiliki wawasan profesi dalam bidang fashion. (sg/gn)

 

Foto: dok. Tim PKM

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 23 February 2021