Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha mengadakan webinar bertajuk Community Well-Being pada 8 Januari 2022. Acara ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom dan dihadiri oleh guru, dosen, dan mahasiswa dari berbagai instansi pendidikan di Indonesia, serta perwakilan dari Badan Penanggulangan Bencana Sumatera Selatan, Lembaga Swadaya Masyarakat, Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan Dinas Pendidikan Kota Pare-Pare.

Acara dibuka dengan sambutan Ketua Pusat Psikologi Positif Universitas Kristen Maranatha, Evi Ema Victoria Polii, S.Psi., M.A. Ia menjelaskan bahwa webinar ini diadakan dengan tujuan untuk mendorong setiap individu agar mampu berusaha mencapai kesejahteraannya, baik secara pribadi maupun sosial. Evi berharap, para peserta dapat memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan mereka serta mampu menerapkannya di tengah masyarakat.

Penyampaian materi diawali oleh dosen Universitas Katolik Widya Mandala, Dr. Nurlaila Effendy, M.Si., dengan judul “Building Community Well Being: Macro and Meso System”. Ia menjelaskan bahwa saat ini, komunitas virtual (virtual community) mulai dikenal sebagai salah satu pengaruh terbesar di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Terdapat tiga tipe komunitas yang dapat kita ketahui, yaitu urban, suburb, dan rural.

Kita juga perlu mengenal tiga level psikologi positif. Level pertama adalah level subject matter yang berbicara mengenai emosi positif. Level kedua adalah level individu yang mengarah pada individual trait yang positif. Level ketiga, yaitu level kelompok, komunitas, atau institusi. Level ini dapat ditemui di dalam komunitas atau kelembagaan positif.

Menurut Align Group, untuk dapat mencapai well-being, setiap organisasi perlu melewati level basic, belonging, dan engagement. Dalam hal ini, peran psikologi diakui menjadi sangat penting.

Sesi materi dilanjutkan oleh dosen Fakultas Psikologi UK Maranatha, Dr. Irene P. Edwina, M.Si., Psikolog, dengan judul “Flourishing, Sulit? Mungkinkah Diperoleh?”. Dalam materinya ia menjelaskan bahwa terdapat beberapa emosi positif yang dirasakan oleh manusia, di antaranya adalah sejahtera secara emosional yang ditandai dengan rasa puas dan memiliki minat dalam hidup. Selain itu, terdapat juga perasaan sejahtera secara psikologis dan sosial. Flourishing dipengaruhi oleh faktor trait, AIM (attention, interpretation, and memory), positivity, dukungan sosial, dan faktor risiko. Agar dapat mencapai flourishing, kita perlu memiliki kekuatan dan potensi untuk menjadi tangguh, belajar dari pengalaman dengan merubah diri menjadi lebih baik, serta mendapatkan jaringan sosial yang positif dan mendukung. Setelah sesi materi selesai, webinar ini diakhiri dengan sesi diskusi antara peserta dan kedua pembicara. (ra/gn)

17 January 2022