Lembaga Pengembangan Kreativitas Akademik (LPKA) menggelar seminar pembelajaran mahasiswa dengan judul “Ngampus di Era Digital, Serba Teknologi. Beneran Penting?”. Seminar ini diselenggarakan pada Jumat, 3 Mei 2024 di ruang H03B02, Gedung Grha Widya Maranatha. Sebagian besar peserta yang hadir merupakan mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi.

Dalam sambutannya, Ketua LPKA, Dr. Bernard Renaldy Suteja, S.Kom., M.Kom., menekankan pentingnya literasi digital yang berkelanjutan seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat. Menurutnya, meskipun kemajuan teknologi seperti artificial intelligence (AI) dapat membantu, tetapi juga dapat mengganggu. Dengan kehadiran narasumber yang kompeten, ia berharap agar mahasiswa dan dosen dapat memanfaatkan AI dengan lebih bijak.

Dalam seminar kali ini, Guru Besar Fakultas Teknologi Informasi, Prof. Dr. Ir. Mewati Ayub, M.T., memaparkan materi dengan tema “Pendayagunaan Teknologi dalam Pendidikan di Era Digital”. Ia menyatakan bahwa melalui teknologi, individu dapat menyesuaikan gaya dan kecepatan belajarnya secara fleksibel, di mana pun dan kapan pun, termasuk melalui sumber-sumber seperti video dan podcast. Namun, di samping manfaatnya, Prof. Mewati juga mengatakan bahwa perkembangan teknologi juga memicu tantangan, termasuk memastikan kemudahan mengakses sumber pembelajaran bagi semua orang.

“Belakangan ini, terdapat pemanfaatan AI dalam pembelajaran, salah satunya adalah ChatGPT. Jika kita menggunakan teknologi dalam pembelajaran, ada hal yang harus diperhatikan, yaitu aspek etika yang mencakup tanggung jawab, komitmen, dan respect,” ungkap Mewati.

Selain itu, Trisa Genia Chrisantiana, M.Psi., Psikolog, dosen Fakultas Psikologi UK Maranatha dan psikolog sekolah di Sky Bandung, turut memberikan paparannya yang berjudul “Menyikapi Trend Pembelajaran di Era Teknologi, dari Sisi Kesiapan Mental dan Psikologi”. Dalam paparannya, ia mengungkapkan bahwa perkembangan AI berdampak signifikan terhadap kondisi psikologis masyarakat. Trisa menekankan bahwa ketidakpastian situasi, tekanan dari ekspektasi orang lain, dan kurangnya interaksi sosial dapat mengakibatkan stres dan kekurangan kebahagiaan bagi individu.

“Untuk mengatasinya, kita sebagai manusia harus terus mengembangkan kemampuan diri, lebih fleksibel dan adaptif dengan perubahan, serta tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi,” tutur Trisa.

Kemudian, acara ditutup dengan sesi tanya jawab serta penyerahan penghargaan kepada narasumber oleh Helen Anjelica Sianipar, S.S., selaku Ketua Bidang Pengembangan Model Pembelajaran LPKA. (av/vir)

29 May 2024