Di zaman modern ini, kita tidak perlu merasa cemas jika tersesat dalam sebuah perjalanan, sebab ada alat penunjuk arah yang dinamakan Global Positioning System (GPS). GPS merupakan sebuah sistem peta digital yang mampu memberitahukan arah menuju tujuan penggunanya. GPS juga dapat memberikan informasi kondisi lalu lintas secara real time untuk menemukan rute terbaik, sehingga kita dapat menghemat banyak waktu untuk mencapai tujuan.

Ketika umat Israel keluar dari tanah Mesir, Allah memberikan sebuah penunjuk arah bagi mereka, berupa tiang awan pada siang hari, dan tiang api pada malam hari. Tiang awan dan api tersebut menjadi lambang penyertaan Allah dalam perjalanan mereka menuju tanah Kanaan. Jika kita mengingat kembali mengenai peristiwa Natal, Allah memberikan bintang Betlehem sebagai penunjuk arah bagi orang Majus dalam perjalanan mereka dari Iran menuju Betlehem. Faktanya, jarak antara Iran dan Bethlehem adalah sekitar 1300 kilometer. Namun, orang Majus mampu menempuhnya untuk menemui Bayi Yesus yang lahir dalam sebuah kandang domba di Betlehem.

Mungkin di dalam benak kita akan timbul sebuah pertanyaan, “Bagaimana dengan kita? Apa yang menjadi tanda bahwa Allah turut menyertai kita?”.

Jawaban dari pertanyaan tersebut dijelaskan melalui materi Pendeta Universitas Kristen Maranatha, Pdt. Yohanes Bambang Mulyono, M.Th. yang diberikan renungan singkat bertema “We Lost Without God” bertepatan pada upacara Wisuda Periode II, Tahun Akademik 2020/2021 yang diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom, pada 29 Juni 2021.

“Nantikanlah Tuhan dan tetap ikutilah jalan-Nya, maka Ia akan mengangkat engkau untuk mewarisi negeri, dan engkau akan melihat orang-orang fasik dilenyapkan” – Mazmur 37:34

Meskipun seringkali mendengar dan mengiyakan bahwa rencana Tuhan merupakan rencana yang terbaik untuk hidup kita, keegoisan dan ketidaksabaran yang timbul dalam diri kita dapat membuat kita melakukan hal yang menyimpang dari perintah Tuhan. Karena tidak sabar menunggu Tuhan bertindak, kita seringkali menjadi frustasi, kemudian berpaling untuk mencari pertolongan kepada yang lain sehingga sikap hati dan karakter kita pun ikut menyimpang dari perintah Tuhan.

Kita hidup di masa postmodern, yaitu masa saat suatu hal dapat mudah sekali terganti dengan hal baru yang memiliki nilai lebih tinggi . Masa ini menjadikan kehidupan manusia memasuki kondisi penuh ketidakpastian. Kita tidak dapat memprediksi kemungkinan yang akan terjadi di hari-hari ini. Contohnya seperti virus Corona. Virus tersebut hadir secara tiba-tiba dan mengubah kondisi, pola hidup, serta kebiasaan umat manusia di seluruh dunia. Banyak tempat yang tidak lagi dapat dikunjungi secara bebas, salah satunya adalah tempat ibadah. Hal ini menjadi guncangan besar yang menerpa umat beragama di seluruh dunia. Oleh karena itu, kita harus terus melakukan upgrade diri. Tanpa melakukan upgrade diri, ilmu dan wawasan yang kita miliki tidak akan mampu membawa kita menghadapi masa pascamodern ini secara relevan.

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”- Matius 7:12

Dalam renungan singkat yang diberikan oleh Pdt. Yohanes, kita diingatkan mengenai tiga panduan penting untuk menjalani hidup di zaman ini, yaitu humanitas, kasih, dan hati nurani. Panduan tersebut berbicara mengenai hubungan, sikap, dan rasa hormat yang kita bangun dengan Tuhan dan sesama manusia. Humanitas yang kita harus terapkan adalah memperlakukan sesama manusia dengan rasa hormat dan kesetaraan. Kita tidak boleh memandang latar belakang, kodrat, dan status sosial seseorang untuk menentukan sikap seperti apa yang harus kita lakukan terhadapnya. Selain itu, kita harus mempraktikan tindakan kasih dalam hidup kita. Seseorang tidak dapat disebut mengasihi Tuhan jika dia tidak mampu mengasihi sesama manusia. Dengan menerapkan humanitas, kasih, dan hati nurani yang benar dan berkenan dimata Tuhan, maka hidup kita akan terarah dengan lebih baik. (ra/gn)

 

Foto: dok. Bidang Media dan Komunikasi UK Maranatha

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 8 June 2021