Sejak Maret 2020 hingga Juni 2021, Indonesia sebagai negara yang memiliki kasus Covid-19 berada di posisi 18 menurut data World Health Organization atau WHO (data diambil dari situs covid19.who.int tanggal 7 Juni 2021). Tingkat kematiannya sendiri secara kumulatif di angka 51.612 orang. Vaksinasi yang telah diberikan mulai bulan Januari lalu bertujuan untuk menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity) agar masyarakat menjadi lebih produktif dalam menjalankan kesehariannya. Namun, sebelum vaksinasi dilakukan, masyarakat telah diperkenalkan dengan salah satu metode alternatif pengobatan Covid-19, yaitu Terapi Plasma Konvalesen (TPK).

Dasar dari plasma konvalesen sendiri adalah antibodi yang terkandung di dalam plasma darah orang yang telah sembuh dari Covid-19. Plasma darah yang diberikan kepada pasien yang masih positif ini berfungsi untuk mengeliminasi virus Covid-19 di dalam tubuh, tetapi bukan untuk memperbaiki organ yang rusak. Hal ini disampaikan oleh Dr. dr. Theresia Monica Rahardjo, Sp.An., KIC., M.Si., M.M., MARS., pelopor TPK di Indonesia dalam kegiatan Webinar Internasional “Convalescent Plasma Therapy” pada tanggal 21 Mei 2021.

Ia menekankan bahwa TPK dapat diberikan kepada seluruh kelompok pasien Covid-19, yaitu dengan gejala moderat, berat, dan kritis. Namun, masalah yang kerap dibicarakan mengenai pengobatan ini adalah mengenai desain studi yang dilakukan. “Ada banyak jurnal penelitian dari seluruh penjuru dunia yang memiliki hasil yang berbeda. Beberapa mendukung TPK, beberapa masih meragukannya,” ungkap dokter yang sering dipanggil dr. Monic.

Agar pengobatan melalui TPK bisa dilakukan dengan baik, dr. Monic menjelaskan tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian TPK kepada pasien. Poin pertama adalah dengan memperhatikan dosis yang diberikan. Dalam satu kantong plasma berisi 3-5 cc per kilogram berat badan dan diberikan dalam rentang waktu 1 – 4 jam. Dalam praktik kesehariannya, pasien akan menerima dua kantong plasma, dan meningkat seiring kondisi pasien. Poin kedua adalah memberikan plasma kepada pasien yang memiliki level antibodi yang masih tinggi karena harus membandingkannya dengan viral load atau kisaran jumlah partikel virus dalam darah. Semakin tinggi viral load, maka membutuhkan antibodi yang lebih tinggi pula.

Waktu pemberian TPK adalah poin ketiga yang harus diperhatikan. Plasma idealnya diberikan dalam jangka waktu 14 hari sejak gejala muncul dan bukan sejak hari pertama masuk ke rumah sakit. Periode ini ditentukan berdasarkan viral load yang tinggi di awal 14 hari, dan akan menurun setelahnya. “Waktu terbaik untuk melakukan TPK adalah 72 jam pertama sejak gejala muncul, atau minggu pertama ketika terjadi demam. Setelah 14 hari biasanya akan muncul sepsis, kerusakan organ dalam tubuh, dan sindrom inflamasi pernapasan,” jelas dr. Monic.

Di Indonesia sendiri, multicenter clinical trial terhadap TPK sudah dilakukan sejak TPK dikenalkan pada publik. Hasil kolaborasi antara Universitas Kristen Maranatha dan Primaya Hospital menunjukkan bahwa TPK dapat menurunkan angka mortalitas secara signifikan kepada pasien.

Selain dr. Monic, hadir beberapa pembicara ahli lainnya yang turut membagikan ilmunya mengenai TPK dalam acara ini. Mereka adalah Professor Michael J. Joyner, M.D. dari Mayo Clinic; Professor Arturo Casadevall, M.D., M.S., Ph.D. dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health; Professor Liise-anne Pirofski, M.D. dari Albert Einstein College of Medicine; dan Dr. dr. Ria Syafitri Evi Gantini, M.Biomed. dari Palang Merah Indonesia. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Fakultas Kedokteran UK Maranatha, Ikatan Dokter Indonesia, PT Itama Ranoraya Tbk, dan PT Terumo Indonesia. (sg/gn)

 

Foto: dok. Fakultas Kedokteran UK Maranatha

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 8 June 2021