Kondisi geografis yang dikelilingi oleh cincin api Pasifik dan terapit di antara lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang rawan terjadi gempa, letusan gunung api, dan tsunami. Untuk itu, masyarakat perlu mengantisipasi dan meningkatkan kesiapsiagaan melalui upaya mitigasi risiko bencana.

Forum Guru Besar (FGB) Universitas Kristen Maranatha menggelar seminar daring (webinar) pada Sabtu, 17 Oktober 2020 dengan topik “Mitigasi Risiko Gempa”. Webinar yang berkolaborasi dengan Fakultas Teknik dan Fakultas Psikologi UK Maranatha ini diikuti sekitar 400 peserta melalui platform Zoom dan dapat juga disaksikan melalui kanal YouTube Universitas Kristen Maranatha.

Rektor Universitas Kristen Maranatha dan Guru Besar bidang seismologi Institut Teknologi Bandung, Prof. Ir. Sri Widiyantoro, M.Sc., Ph.D., IPU sebagai pembicara pertama menjelaskan mengenai gempa tektonik dari sisi ilmu geofisika . Ia mendefinisikan gempa tektonik sebagai gerakan tiba-tiba yang terjadi di dalam kerak atau mantel bumi paling atas. Pergeseran lempeng bumi ini diakibatkan oleh panas inti bumi yang tinggi sehingga menekan ke atas melalui mekanisme konveksi mantel bumi.

Meskipun berbentuk batuan, lempeng bumi memiliki sifat elastis sehingga jika terkena panas lempeng tidak langsung pecah. Lempeng bumi nantinya akan mengalami bending (pembengkokan), dan jika telah melewati batas elastisitasnya maka lempeng akan terpecah secara mendadak. “Maka perlu digarisbawahi bahwa sampai sekarang gempa masih sangat sulit diprediksi karena prosesnya yang pelan, tetapi bisa tiba-tiba pecah dan mengakibatkan pergeseran,” jelas Prof. Sri.

Hasil penelitian yang ia dan tim lakukan mengenai potensi gempa megathrust yang kemungkinan menyebabkan tsunami di Pantai Selatan Pulau Jawa merupakan riset yang dilakukan untuk mengetahui suatu skenario terburuk (worst-case scenario). “Manfaat skenario ini tentu untuk memperkuat usaha mitigasi lebih efektif, kira-kira daerah mana saja yang harus diperhatikan. Jadi sekali lagi, ini bukan prediksi, bukan peringatan. Namun, kita jadi lebih mengenali dan lebih waspada terhadap potensi bahaya yang ada di sekitar kita,” jelasnya.

Bangunan juga perlu mendapatkan perhatian dalam upaya mitigasi gempa. Dosen Fakultas Teknik dan Kepala Laboratorium Struktur Beton Universitas Kristen Maranatha, Dr. Ir. Anang Kristianto, M.T. menyebutkan, dalam membuat sebuah bangunan tahan gempa, kita harus memperhatikan hal-hal kecil seperti detailing baja tulangan (reinforcement detailing). Anang mengatakan bahwa detailing standar itu penting untuk selalu diperhatikan dan diterapkan.

Alasan pertamanya adalah detailing yang tidak tepat masih menjadi penyebab kegagalan bangunan. Masalah detailing, seperti confinement (pengekangan) sesuai standar, panjang baja penyaluran yang sesuai, dan join pada tempat-tempat fundamental sering dianggap sepele kerap diabaikan. Namun jika dibiarkan, akan menjadi masalah besar ketika bencana gempa datang. Kedua, detailing berfungsi sebagai mitigasi bahaya gempa sehingga bangunan seharusnya tidak boleh roboh meskipun berhadapan dengan gempa besar. Ketiga, prinsip kontinuitas dan integritas struktural yang menjadi bagian penting struktur tahan gempa, hanya dapat dicapai dengan detailing yang benar.

“Belajar dari pengalaman gempa-gempa yang lalu dan berbagai pengujian yang dilakukan di laboratorium, telah menunjukkan bahwa berbagai struktur beton yang direncanakan dan didetail sesuai ketentuan standar yang berlaku dapat bertahan dengan baik terhadap gempa kuat tanpa kehilangan kekuatan yang berarti,” ucap Anang sebagai kesimpulan dari materinya.

Mitigasi pun tidak hanya berbicara tentang sebelum kejadian, tetapi juga akibat yang ditimbulkan. Berbagai kerugian tentu akan dialami oleh para korban yang berdampak langsung ataupun tidak langsung. Dampaknya pun tidak hanya pada fisik dan materinya saja, tetapi juga psikologis korban bencana. Dekan Fakultas Psikologi UK Maranatha, Dr. Yuspendi, M.Psi., M.Pd., Psikolog menyebutkan bahwa keluhan psikosomatik korban bencana dapat berupa sakit kepala, sakit badan, kecemasan berlebih, dan sebagainya. Oleh karena itu, ia mengatakan perlu adanya tindakan-tindakan untuk membantu mengurangi dampak psikologis bagi para korban agar tidak terus terpuruk dalam kecemasan, yaitu bantuan bersifat konseling suportif dan trauma healing diberikan setelah kondisi aman, serta perlu membentuk peer-counselling berupa pelatihan konseling kepada orang setempat.

Yuspendi menyarankan beberapa hal bagi tim-tim mitigasi yang akan diterjunkan ke daerah yang terkena dampak gempa, seperti perlunya mengatur waktu yang tepat ke daerah bencana dengan urutan tim bantuan pangan-sandang dan tim medis, lalu tim psikologis dan terapis lainnya, serta diikuti tim bantuan sosial untuk renovasi dan pembangunan kembali; perlunya pendataan korban sehingga bantuan sosial dapat tepat sasaran dan mencegah timbulnya kecemburuan sosial; berkoordinasi dengan tim relawan lainnya; dan belajar memahami adat dan kebiasaan setempat agar kita tidak menyinggung warga setempat. (sg/gn)

 

Foto: dok. FGB UK Maranatha via Zoom

Upload pada 22 October 2020