Mengenali langkah yang tepat untuk menangani pasien gawat darurat adalah salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh para dokter. Memperbarui ilmu yang dimiliki juga harus terus dilakukan guna memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien yang memerlukannya. Oleh sebab itu, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Kristen Maranatha melaksanakan webinar yang diikuti oleh para tenaga medis dan mahasiswa FK, baik dari Maranatha maupun universitas lainnya. Webinar menghadirkan dua narasumber yang andal di bidangnya, yaitu dr. Andri Octavallen, Sp.EM. dan dr. Rani Septrina, Sp.BP-RE. Masing-masing dari mereka membawakan topik “Wound Management in Emergency Setting” dan “Skin Avultion Injury” melalui aplikasi Zoom pada 19 Mei 2020.

Pada sesi pertama, dr. Andri yang bertugas di RS Immanuel, Bandung, membagikan berbagai hal yang sehari-hari ia lakukan selama menjalankan praktik. Menurutnya ada empat hal yang harus dilakukan ketika menghadapi pasien yang mengalami luka. Yang pertama adalah dengan membersihkan luka tersebut dengan memperhatikan kedalaman luka pasien dan melihat konfigurasinya. Kedua, jika tidak bisa dilakukan pembersihan, hal yang harus dilakukan adalah dengan melakukan debridement (pengangkatan jaringan yang rusak atau mati). Selanjutkan dokter harus melakukan penutupan dengan memperhatikan teknik dan hal yang digunakan, seperti penggunaan air, hidrogen peroksida, ataupun antiseptik lainnya. Terakhir adalah memperhatikan bagaimana proteksi terhadap penutupan lukanya dengan melihat komplikasi yang ditimbulkan.

Selanjutnya pada sesi kedua, dr. Rani menjelaskan bahwa luka yang dijahit emergency karena umumnya dianggap sebagai luka laserasi (luka sobekan) dan dirujuk ke rumah sakit pada praktiknya ternyata memberikan masalah yang lebih banyak lagi. Dokter yang ahli di bidang bedah plastik rekonstruksi ini menjelaskan bahwa skin avultion ini dapat diartikan sebagai luka yang terjadi ketika kulit terkoyak dari tubuh akibat kecelakaan atau cedera lainnya dan sulit ditutup karena ada jaringan yang hilang. Mekanismenya menurut dr. Rani terjadi karena adanya trauma berenergi tinggi yang terjadi. “Respon dari trauma itu ke badan dapat menimbulkan inflamasi dan terganggunya sistem imun,” jelasnya.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, dr. Lusiana Darsono, M.Kes., turut mengikuti webinar ini dengan memberikan sambutannya. Ia mengatakan bahwa masa pandemi ini membuat berbagai perencanaan menjadi tidak dapat dilaksanakan. Namun, menurutnya tidak seharusnya masa sulit menghentikan kita untuk terus berkarya bagi sesama. Oleh karena itulah FK Maranatha berkomitmen untuk terus membekali dan memperbarui pengetahuan medis bagi calon dokter maupun tenaga medis lainnya. Harapannya adalah agar ilmu-ilmu yang didapatkan dari seminar ini dapat bermanfaat bagi semuannya. “Tetap sehat dan tetap semangat, untuk pelayanan kesehatan Indonesia yang lebih baik lagi,” ungkap dr. Lusiana. (sg/gn)

Upload pada 30 May 2020