Di tengah perkembangan zaman, keberadaan budaya dan kearifan lokal turut terancam. Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Kristen Maranatha melalui acara bertajuk Unoflatu ingin mencari peluang dan menggali potensi agar kebudayaan dan kearifan lokal tersebut dapat terus bertahan di era disrupsi ini.

Acara yang rutin dilakukan setiap dua tahun ini merupakan suatu kegiatan diseminasi untuk memperkenalkan hasil karya, atau pun hasil penelitian dosen FSRD. Unoflatu biasanya dilakukan dalam bentuk pameran, tetapi kali ini menambahkan kegiatan seminar nasional yang diselenggarakan pada tanggal 17 Oktober 2019 lalu di Ruang Teater, Gedung Administrasi Pusat lantai 8.

Mengangkat isu terkini, Seminar Nasional Unoflatu mengambil tema “Budaya dan Kearifan Lokal untuk Masa Depan: Antara Tantangan dan Peluang di Era Disrupsi”. Tiga pembicara hadir untuk memaparkan materinya masing-masing. Mereka adalah Prof. Dr. Ign. Bambang Sugiharto, seorang Guru Besar Universitas Katolik Parahyangan yang membawakan materi berjudul “Kreativitas & Budaya Lokal”; Dr. Adhi Nugraha, M.A., ekspertis berbasis tradisi dan pengembangan komunitas, Institut Teknologi Bandung dengan materi “Transformasi Tradisi: Aplikasi Metode ATUMICS dalam Pengembangan Kekayaan Seni dan Desain Nusantara”; serta Dr. Krismanto Kusbiantoro, S.T., M.T., Ketua Program Studi S-1 Arsitektur UK Maranatha dengan materi “Masa Depan Arsitektur Tradisional di Era Disrupsi (Studi Kasus: Hunian Tradisional Masyarakat Mentawai dan Nias)”.

Krismanto yang juga bertanggung jawab sebagai Ketua Acara ini mengungkapkan, saat ini banyak sekali penelitian tentang budaya lokal. Muncul juga banyak pertanyaan apakah budaya lokal tersebut dapat bertahan di era disrupsi seperti saat ini. “Apa yang harus dilakukan oleh budaya lokal ini supaya bisa tetap eksis. Bagaimana masa depannya? Apa peluang-peluangnya?  Itu yang coba digali dalam seminar ini,” jelasnya.

Seminar ini juga mendapatkan respons yang cukup baik dengan adanya 25 paper yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia dan dipersentasikan pada parallel session. Mereka menampilkan pemikiran-pemikiran yang jadi penelitian mereka selama ini, sehingga dosen, mahasiswa, maupun peserta lainnya dapat belajar dari pemikiran-pemikiran tersebut.

Setelah rangkaian kegiatan seminar berakhir, acara Unoflatu kemudian dilanjutkan dengan pameran internasional dan workshop yang diselenggarakan pada 18 hingga 23 Oktober 2019 di Exhibition Hall, Gedung B UK Maranatha. Pameran internasional yang diadakan ini selain melibatkan karya dari dosen FSRD Marantha, juga turut melibatkan karya-karya dari partner kerja sama FSRD dari berbagai universitas di luar negeri. Sedangkan workshop yang diadakan adalah berupa kegiatan membatik dengan biji asam atau klungsu. “Workshop ini memperkenalkan keahlian baru dalam bidang seni rupa yang menarik dan tidak umum untuk diketahui, tetapi memiliki potensi di masa depan. Workshop membatik dengan biji buah asam memiliki teknik yang berbeda dengan teknik membatik dengan canting dan dirasa dapat menarik minat dan perhatian masyarakat umum pada kearifan lokal,” jelas Krismanto.

Unoflatu yang berarti satu nafas diharapkan menjadi ajang pada dosen untuk memperlihatkan karya di bidangnya masing-masing ke hadapan umum. FSRD yang memiliki keragaman, terdiri dari lima program studi diharapkan dapat bergerak menjadi “satu nafas” membawa hasil kreativitasnya untuk dimaknai bersama. (gn)

Upload pada 18 October 2019