Tren Pemasaran Industri Kreatif: Ikuti atau Tinggalkan?

Hari pembukaan Hajad Jagad 2017 yang diadakan oleh Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Kristen Maranatha pada tanggal 5 September 2017 tidak hanya meriah, namun juga menginspirasi. Selain menikmati suguhan visual yang atraktif dan kuliner yang mengenyangkan, para pengunjung mendapatkan ilmu dan wawasan baru yang dibahas dari berbagai sudut pandang. Salah satunya dari Seminar “Marketing Trend in Creative Industry”. Topik ini diangkat karena segi pemasaran merupakan hal yang diperlukan untuk membuat produk dan jasa industri kreatif dapat diterima pasar, karena tidak semua desain berkualitas bisa laku di pasaran. Namun di sisi lain, tidak semua desain yang laku adalah desain yang berkualitas. Ini merupakan tantangan yang terus-menerus dihadapi oleh para desainer dan seniman.

Pembicara pertama dalam seminar ini adalah Diaz Hensuk (Sekretaris Jendral ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia). Beliau banyak menangani proyek desain branding lewat biro desain yang dimilikinya, serta aktif mengajar di Jakarta. Salah satu proyek rebranding yang kita kenal misalnya untuk fashion brand Dian Pelangi. Sedangkan pembicara kedua adalah Renno Reymond Okto Z., S.T., M.M. (Wakil Komite Tetap Bidang Industri Kreatif Berbasis Budaya KADIN (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) yang menjadi direktur beberapa perusahaan. Beliau juga aktif mengajar di dua universitas Jakarta serta memiliki empat sertifikasi sebagai auditor, asesor kompetensi, dan kompetensi di bidang MICE. Seminar ini dimoderatori oleh Dipl. Ing. Elliati Djakaria S., M.Min, salah satu dosen Desain Interior FSRD Universitas Kristen Maranatha yang saat ini juga aktif berwirausaha di bidang desain interior dan perhiasan.

Pembicara pertama, Diaz Hensuk memulai sesinya dengan memberikan gambaran mengenai masyarakat Indonesia yang sampai saat ini masih awam dengan desainer grafis, salah satu profesi yang sangat membantu branding untuk keperluan pemasaran. Baginya, tren pemasaran bukanlah sesuatu yang mutlak untuk dilakukan agar identitas brand tidak hilang. Namun setiap desainer tetap harus up to date terhadap perkembangan tren. Strategi pemasaran yang paling baik adalah kisah menarik dari brand itu sendiri. Saat ini alat pemasaran yang paling berpengaruh saat ini adalah mobile video, tidak lagi gambar/poster/foto yang tidak bergerak. Selain itu virtual reality, big data, interactive content, chatbotz, social media juga sangat berpengaruh untuk pemasaran. Diaz Hensuk juga mencermati bahwa kondisi yang terjadi di dunia pemasaran saat ini bukanlah perubahan tren, tapi perubahan paradigma.

Pendekatan berbeda dilakukan oleh Renno Reymond Okto Z., S.T., M.M. Para peserta diberi pemaparan mengenai kondisi global perekonomian Indonesia. Sejak tahun 2015, Presiden RI memberi arahan agar ekonomi kreatif menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia, sehingga saat ini banyak kebijakan yang mendukung perkembangan industri ekonomi kreatif. Berdasarkan survei yang dilakukan Bekraf, kuliner merupakan industri kreatif terbesar untuk domestik, sedangkan fashion adalah yang terbesar untuk ekspor. Beliau memaparkan juga berbagai masalah yang dihadapi oleh keenam belas subsektor industri kreatif. Strategi pemasaran yang sering digunakan oleh industri kreatif saat ini sudah tidak konvensional karena perubahan generasi dan teknologi informasi. Berdasarkan data riset tersebut, beliau menyimpulkan bahwa para pelaku industri kreatif perlu beradaptasi dengan tren pemasaran yang ada. Para calon desainer pun perlu berani membuka usaha yang besar agar dapat menguasai pasar.

Dari kedua pemateri, kita dapat melihat bahwa dampak perubahan zaman akibat perkembangan teknologi informasi tidak terelakkan sehingga tidak sekedar mengubah tren pemasaran, tapi mengubah paradigma masyarakat terhadap kebiasaan lama. Dua pendekatan yang berbeda dari kedua narasumber merupakan hal yang sebenarnya saling melengkapi. Tarik-menarik antara idealisme sebagai desainer dan realita pasar yang harus dihadapi pengusaha merupakan hal yang tak akan pernah berakhir dan harus terus diusahakan. Oleh karena itu dibutuhkan kreativitas dan semangat dalam menjaga passion agar para desainer bisa terus menghasilkan karya yang berkualitas, memasarkan dengan cara yang tepat tanpa meninggalkan identitas brand dan diterima pasar. (berita oleh Isabella Isthipraya, M.Ds. – Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain)