Kewajiban seorang dosen telah diatur di dalam tridarma perguruan tinggi, salah satunya pengabdian kepada masyarakat (PKM). PKM yang merupakan realisasi riset dosen seharusnya memberikan kemanfaatan sosial ekonomi bagi masyarakat luas dan terus didorong agar terus meningkat. Oleh karena itu, Journal of Innovation and Community Engagement (ICE) Universitas Kristen Maranatha mengadakan sebuah webinar bertema “Pengabdian Masyarakat sebagai Bagian dari Hilirisasi Riset” melalui Zoom pada 23 September 2021. Peserta webinar diikuti sekitar 110 orang yang berasal dari 31 institusi pendidikan yang berada di berbagai daerah di Indonesia.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UK Maranatha, Dr.Teresa Liliana W., S.Si., M.Kes., PA(K). menyebutkan bahwa hilirisasi riset yang memberikan kebermanfaatan ekonomi masyarakat luas, memang sangat diharapkan dan terus didorong agar meningkat. Riset diharapkan tidak hanya berakhir dalam bentuk laporan dan publikasi, tetapi juga diharapkan dapat dirasakan masyarakat. “Journal of ICE mewadahi publikasi aktivitas pengabdian kepada masyarakat sebagai implementasi dari riset untuk kesejahteraan masyarakat. Aspek luaran berupa publikasi jurnal mempunyai persentase terbesar, yaitu 45 persen. Aspek luaran PKM juga mendukung jabatan akademik dosen, akreditasi institusi perguruan tinggi, akreditasi program studi, dan tentu saja pemeringkatan perguruan tinggi. Oleh karena itu, keberadaan Journal of ICE sangat kita syukuri, dan dukungan bapak ibu sangat penting bagi peningkatan mutu dan kebermanfaatan jurnal ini,” ujar Teresa.

Pemateri pertama pada acara ini merupakan Guru Besar di Bidang Mikrobiologi, Bioteknologi Tanah dan Lingkungan di Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Prof. Ir. Irfan D. Prijambada, M.Eng., Ph.D. Ia mengatakan, bonus demografi berupa dependency ratio yang akan diterima Indonesia di tahun 2010-2040 akan menjadi masalah bila produktivitas masyarakat rendah, produsen barang-barang primer atau bahan-bahan pertanian sedikit, sumber daya belum banyak diolah, kemampuan mengolah rendah, kekurangan modal, dan orientasi perdagangan yang condong ke luar negeri. “Untuk mengubah masalah ini perlu riset untuk menjawab permasalahan dalam pemanfaatan bonus demografi Indonesia, yaitu melalui dukungan terhadap riset yang dapat meningkatkan daya saing bangsa. Arahnya dengan mengembangkan dan atau menghasilkan produk, mengembangkan dan atau menghasilkan kebijakan publik, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta melestarikan nilai dan budaya bangsa,” jelas Prof. Irfan.

Namun, peneliti kerap hanya menjadikan penelitiannya terbatas sebagai hasil publikasi semata, tidak dapat menerapkannya dalam PKM sebagai hasil dari hilirisasi riset. Masyarakat tidak dapat merasakan manfaat dari keberadaan riset tersebut. “Hasil dari penelitian yang dikumpulkan oleh tim peneliti menghasilkan pengetahuan baru yang luarannya dapat menjadi publikasi bagi sesama peneliti, advokasi bagi penentu kebijakan, bahan konsultasi kepada industri, serta sebagai pengabdian kepada masyarakat,” ungkap Prof. Irfan.

Selanjutnya, pemateri kedua yang diundang adalah Managing Editor Jurnal PKM UGM, Lu’luatul Chizanah, S.Psi.,M.A. Lu’luatul menjelaskan sebuah riset haruslah memiliki roadmap yang jelas dan bermuara pada lahirnya produk yang teruji. Artinya, kita perlu menyadari bahwa penelitian itu tidak semata-mata hanya untuk keingintahuan saja, tetapi harus ada produk yang bisa dihasilkan dan memiliki kebermanfaatan besar. “Ada tiga prinsip penting yang saya telaah dari riset itu, yaitu invensi, difusi, dan inovasi. Invensi ini mengarahkan sejauh mana riset mampu mengarahkan pada penemuan produk tertentu. Sedangkan inovasi mengarahkan produk riset untuk dapat diterapkan di masyarakat. Untuk difusi itu, merujuk pada penerimaan masyarakat secara luas dan cepat pada hasil produk luaran kita,” jelas Lu’luatul lebih lanjut.

Langkah yang ia sarankan untuk dilakukan adalah dengan memformulasikan ide yang berangkat dari produk riset dan kebutuhan asesmen. Pada bagian pengembangan, diperlukan perencanaan program dan koordinasi dengan mitra. “Kemudian, proses implementasinya agar kita bisa mengklaim efektivitas dengan benar, maka kita perlu mengumpulkan data pra dan pasca program yang lalu dianalisis efektivitasnya berdasarkan data. Terakhir, kita mendiseminasi dan follow up  sejauh mana program dapat diterima dan diterapkan secara mandiri oleh masyarakat,” tutur Lu’luatul. (sg/gn)

Foto: Panitia Journal of ICE

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 25 October 2021