Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, bekerja sama dengan Personale, sebuah biro psikologi yang berlokasi di Kota Bandung, menggelar kegiatan webinar Keterampilan Dasar Konseling pada Sabtu, 16 Oktober 2021. Webinar yang bertema “Mewujudkan Kesetaraan Kesempatan dalam Akses Kesehatan Mental” berlangsung secara daring melalui platform Zoom dan dapat disaksikan kembali melalui YouTube.

Pemateri pada kegiatan webinar ini adalah dosen Fakultas Psikologi UK Maranatha sekaligus founder Personale, Jeans Esparanci W., M.Psi., Psikolog. Moderator webinar, Meta Dwijayanthy, M.Psi., Psikolog menyebutkan bahwa pelatihan ini ingin menyoroti isu kesehatan mental yang cukup meledak belakangan ini. Melalui pelatihan yang diikuti 70 peserta dari berbagai kalangan ini, diharapkan dapat menambah wawasan publik mengenai kesehatan mental sekaligus meningkatkan keterampilan dasar terkait konseling dasar dan kelak dapat menerapkan teknik konseling dasar ini kepada organisasi atau masyarakat yang mereka layani.

“Dengan mendukung Hari Kesehatan Mental Dunia, diharapkan kita dapat menjadi agen-agen konselor yang membantu banyak orang di luar sana karena menjadi konselor tidak harus memiliki latar belakang psikologi,” jelas Meta.

Jeans menyebutkan bahwa selama masa pandemi, orang yang mengalami gangguan depresi dan kecemasan mengalami peningkatan. Dari hasil riset, ditemukan bahwa persentase terbesar ditempati oleh golongan usia 18-24 tahun (56,2 persen), diikuti usia 25-49 tahun (48,9 persen). Menurutnya, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan masalah gangguan mental di Indonesia. Faktor-faktornya berupa kemiskinan, literasi kesehatan jiwa yang rendah, pola asuh orang tua yang tidak berorientasi pada kesejahteraan psikis anak, risiko kekerasan terhadap anak di rumah, kekerasan antar remaja, dan risiko perundungan di sekolah.

“Konseling adalah suatu proses interaksi antara dua orang individu, masing-masing disebut konselor dan helpee, dilakukan dalam suasana yang profesional, bertujuan dan berfungsi sebagai alat atau wadah untuk memudahkan perubahan tingkah laku helpee,” jelas Jeans.

Untuk menjadi seorang konselor yang baik, Jeans menyebutkan beberapa sifat yang harus dimiliki seorang konselor, yaitu mengenali diri dengan baik dan mampu memisahkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Selain itu, konselor juga harus memiliki ketulusan untuk membantu, mampu menjaga rahasia, memiliki empati yang cukup tinggi, memiliki rasa keterbukaan dan kejujuran, mampu menghargai dan tidak membeda-bedakan, serta memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi.

“Konselor itu memang bisa dibilang tergolong rentan untuk stres dan burnout. Konselor tentunya tidak sempurna. Namun, konselor yang baik selalu berusaha membarui energinya, semangatnya, mencapai goals hidupnya, aktif dalam mengembangkan diri serta potensinya,” terang Jeans

Terdapat enam tips yang bisa dilakukan untuk melakukan konseling. Pertama adalah perlunya empati untuk bisa memahami perasaan orang lain, mendengarkan dengan hati, dan tidak menggunakan sudut pandang diri. Kedua, hindari langsung memberikan solusi, tujuannya agar mereka tahu apa harapan yang ingin mereka capai, dan kita tidak menyarankan tindakan yang telah mereka lakukan. Ketiga, aktif untuk mendengarkan dan fokus pada apa yang sedang diungkapkan oleh helpee. Selanjutnya, bertanya lebih lanjut dengan menggali dan menggunakan kata “apa”, bukan “mengapa”. Lalu, berikan space dan privasi ketika mereka belum siap atau ingin bercerita. “Terakhir, jangan ragu untuk mengarahkan dan mendukung mereka untuk mencari bantuan profesional,” ungkap Jeans. (sg/gn)

 

Foto: dok. Personale via YouTube

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 9 November 2021