Riset Kesehatan Dasar di Indonesia tahun 2018 mencatat anak-anak berusia lima tahun rata-rata memiliki delapan gigi berlubang. Hal ini mengakibatkan anak sulit makan karena rasa sakit yang dialami, sehingga asupan gizi berkurang, anak menjadi kurang cerdas dan akan berpengaruh pada masa depannya.

Masalah kesehatan gigi seperti ini pula telah ditemukan oleh Dr. drg. Irene Adyatmaka pada beberapa sekolah yang peserta didiknya tergolong tingkat menengah ke atas dan juga mendapati tingkat kesehatan gigi dan mulut anak-anak di sini tergolong buruk. Hal ini beliau sampaikan pada seminar yang diadakan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Kristen Maranatha pada 11 November 2019 lalu di Ruang Skill Lab 1, Grha Widya Maranatha lantai 12.

Dalam seminar yang mengangkat tema “Community Participation and Empowerment through Dental Immunization”, drg. Irene menyimpulkan bahwa karies atau gigi berlubang tidak hanya diderita oleh kebanyakan golongan tidak mampu saja, orang yang mampu pun masih banyak yang kurang memahami dan memperhatikan kesehatan gigi dan mulutnya. Selain itu, dokter gigi terkadang tidak menyadari tugasnya untuk memberikan pengetahuan mengenai pencegahan penyakit gigi dan mulut, dan hanya fokus pada tindakan kuratif (pengobatan).

Pekerjaan sebagai dokter gigi bukanlah hanya menambal gigi yang berlubang saja. Faktor lain yang perlu diperbaiki, seperti tingkat keasaman rongga mulut pun perlu diperhatikan. Dalam menangani masalah gigi dan mulut, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan. Penanganan juga mungkin akan berbeda dan disesuaikan dengan masing-masing individu. Oleh karena itu, drg. Irene juga memperkenalkan metode Irene Donut yang juga merupakan hasil disertasinya kepada para peserta.

Hal ini diharapkan dapat menolong pada dokter gigi lain untuk mengukur faktor resiko karies gigi pada anak-anak. Menurut drg. Irene yang juga merupakan dosen di FKG Maranatha, metode tersebut telah disahkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk digunakan pada Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) Inovatif.

“Kegiatan seperti ini juga harus dilaksanakan juga di sekolah-sekolah supaya memberikan banyak dampak positif, baik terhadap guru maupun para siswa untuk kesehatan gigi yang lebih optimal,” ujar Deden Sarifudin, S.Pd., Guru Penjaskes SDN 272 Sukasari, Bandung yang turut menghadiri seminar ini. “Pengenalan obat atau alat untuk menanggulangi terjadinya kerusakan gigi pun perlu dipelajari sejak dini, agar kerusakan pada gigi dapat diatasi sebelum adanya penyakit,” tambahnya. Athalia Amelia A., mahasiswi FKG mengatakan, “Acara ini bagus dan bermanfaat, serta menyadarkan para dokter gigi yang mau turun untuk melayani orang-orang dengan ekonomi lemah.”

Fakultas Kedokteran Gigi Maranatha telah melalukan sosialisasi kepada para kepala sekolah mengenai kesehatan gigi dan mulut pada tahun 2018. Di tahun 2019, FKG kembali menguatkan komitmen yang telah dilakukan bersama para kepala sekolah dengan melakukan sosialisasi kepada perwakilan orang tua dan perwakilan guru. Beberapa sekolah pun telah menunjukan komitmen yang kuat dalam menangani masalah ini, tetapi masih perlu dilakukan pendekatan yang lebih dalam untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memperhatikan kesehatan rongga mulut anak. (gn)

Upload pada 19 November 2019