Tim robotik bimbingan Teknik Elektro Maranatha gabungan dari siswa-siswi SMP dan SMA Bandung berhasil menjuarai ajang kompetisi VEX Robotics Competition 2019 “Battle in Bangkok”, Thailand, 2-3 Februari 2019. Tim Diablo yang beranggotakan lima orang siswa-siswi SMAK 1 BPK Penabur Bandung, Sekolah Kuntum Cemerlang, dan SMP Cahaya Bangsa Classical School menyabet tiga gelar sekaligus: Excellence Award Top All Around Team; Tournament Champion Award Each Team on Winning Alliance; dan Robot Skills Champion Award Top Combined Programming & Driving Skills Challenge Team.

“Battle in Bangkok” adalah rangkaian VRC (VEX Robotics Competition) yang menjaring para juara dan akan dipertemukan pada VEX World Championship Kentucky, Amerika pada bulan April 2019. Pembimbing tim kompetisi, Muliady Ang, S.T., M.T., Kepala Lab. Robotika dan Mekatronika Teknik Elektro Maranatha mengungkapkan, “Tim yang berangkat dari Bandung sebanyak tiga tim: Diablo, Silverback, dan Monster. Tim ini adalah para pemenang lomba IRoF 2018 yang sebelumnya diadakan di kampus Maranatha.” Tergabung dalam tim Diablo adalah siswa-siswi SMAK 1 BPK Penabur: Farrell Hung, Bryan Ethanael, Theodore Toby Samuel; SMP Sekolah Kuntum Cemerlang: Seline Hung; dan SMP Cahaya Bangsa Classical School: Yedija Steven. Tim Silverback beranggotakan Christopher Sandy Setiawan, Kevin Wijaya (SMAK 1 BPK Penabur), dan Amadeus Bagas Anggaraksa (SMA Sekolah Kuntum Cemerlang). Siswa SMAK Bina Bakti 1 tergabung dalam tim Monster, yaitu Ng Kyle, Reynard Moses, Valensius Nathanael Huangtama, dan Arthur Joe Tarigan.

VRC 2019 diikuti oleh total 14 tim, dengan dua kategori pertandingan: Robot Skills Challenges dan Tournament. Dua dari tiga tim yang mewakili Indonesia hanya berhasil masuk babak semifinal. “Satu tim berhasil mendapatkan gelar paling bergengsi: Excellence Award Top All Around Team. Penilaiannya meliputi performansi robot di lapangan, engineering note book – semacam log book penelitian/desain, presentasi, dan interview juri. Performa robot dan teoritisnya lengkap dinilai,” lanjut Muliady.

“Suasana kompetisi sangat menegangkan, apalagi setelah dua tim lainnya kalah. Yang paling menantang adalah membuat robot yang bagus, bisa mencapai target dengan konsisten. Ditambah lagi situasi saat kompetisi beda dengan saat biasa latihan, jadi harus ada penyesuaian,” ungkap Bryan Ethanael, siswa SMAK 1 BPK Penabur. Farrell Hung dari tim yang sama menceritakan, “Kami mendapat pengalaman seru. Menerapkan ilmu fisika dan matematika dalam pembuatan robot; team work dan manajemen waktu; juga ditambah dengan pelatihan yang diberikan, bukan hanya teknis robotika tetapi juga soft skills. Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas semua dukungan, sehingga dapat membawa pulang tiga piala dengan bangga.”

Muliady berharap agar tim ini terus belajar, meningkatkan kemampuan diri dan robotnya, sehingga dapat masuk dalam daftar juara Asia Pasifik, kemudian ke World Championship. “Sesuai cita-cita IRoF, keikutsertaan mereka dalam ajang kompetisi sampai ke level internasional seperti ini akan menumbuhkan kecintaan terhadap bidang teknik, khususnya robotika, dan dapat melahirkan roboticist unggul Indonesia, baik dalam berkompetisi maupun berinovasi untuk kontribusi dalam masyarakat,” tutup Muliady. (ins)

Upload pada 7 February 2019