Seiring dengan meningkatnya jumlah pasien Covid-19 yang sembuh, harapan bagi seluruh manusia pun meningkat. Salah satunya dengan dikembangkannya sebuah terapi plasma pasien sembuh Covid-19, yaitu Terapi Plasma Konvalesen (TPK). Terapi ini sebelumnya telah dilakukan sekitar 100 tahun lalu dan telah diterapkan pada penyakit seperti Ebola, H1N1, SARS, dan MERS. Hal ini disampaikan oleh ahli genetika dan biologi molekular Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Dr. dr. Theresia Monica Rahardjo, M.Si., Sp.An.-KIC., dikutip dari Kompas TV pada Rabu, 22 April 2020.

Terapi plasma ini merupakan salah satu bentuk dari vaksinasi pasif yang diambil dari pasien sembuh Covid-19. Plasma yang dimiliki pasien sembuh ini mengandung kekebalan tubuh atau imunoglobulin yang cukup tinggi. “Imunoglobulin ini kita berikan kepada pasien penderita Covid-19 untuk menyembuhkan penyakitnya,” ujar dr. Monica.

Koordinator Tim TPK Covid-19 ini menjelaskan, terdapat kondisi atau kriteria tertentu yang harus diperhatikan pada pemberian plasma supaya tingkat keberhasilannya maksimal. “Donor harus memiliki hasil positif pada PCR sebelumnya dan sembuh dari gejala selama 14 hari. Setelah sembuh, donor harus mengalami tes CPR dua kali dengan hasil negatif,” jelasnya.

Setiap donor dapat menghasikan sekitar 500 cc plasma yang dapat diberikan kepada dua penderita, tetapi tetap memperhatikan kondisi dari donor. Pengambilan plasma ini dapat diulang dalam jangka waktu 14 hari dan dapat dilakukan beberapa kali.

Tim TPK Covid-19 ini diinisiasi oleh dr. Monica melalui surat yang ia kirimkan kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dengan tujuan melaksanakan terapi plasma ini. Surat yang ia kirimkan itu kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dengan membentuk tim di daerah-daerah yang kemudian bergabung menjadi satu tim Indonesia untuk melakukan TPK ini.

Penelitian terhadap terapi ini sebelumnya juga telah dilaksanakan di beberapa negara, seperti  Tiongkok dan Korea Selatan. Dalam penelitian tersebut dr. Monica menyebutkan, pasien yang diuji dengan terapi plasma semuanya sembuh. “Semua dilakukan kepada pasien kritis yang berada di dalam ventilator di ICU yang menunjukan perbaikan dan diijinkan pulang ke rumah,” tutur dr. Monica.

Ia menambahkan, program terapi plasma di Indonesia saat ini telah dimulai dengan mengumpulkan data donor oleh center-center di daerah pulau Jawa dan Bali. Bahkan beberapa center sudah mengambil plasmanya. Pemberian plasma, seperti yang dikatakan oleh dr. Monica, juga telah dilakukan kepada satu pasien Covid-19 di Indonesia.

Pasien Covid-19 ini pada awal kedatangannya ia sebutkan berada dalam kondisi yang sangat berat. Setelah pasien tersebut menerima dua kali pemberian plasma darah, ia saat ini mulai dapat bernapas tanpa alat bantu  dan kesadarannya juga berangsur pulih. “Itu adalah pasien pertama yang diberikan TPK di Indonesia sesuai dengan protap (prosedur tetap) yang telah kami buat,” jelasnya.

Dengan melihat jumlah pasien sembuh Covid-19 yang terus meningkat, dr. Monica mengimbau kepada seluruh center, baik dari rumah sakit pemerintah maupun swasta supaya bersama-sama mulai melakukan terapi ini. Sehingga kita secara serentak dapat mengatasi pandemi ini dengan seluruh persatuan dan kesatuan dari bangsa kita. (sg/gn)

Gambar: www.kompas.tv/www.useetv.com

Upload pada 25 April 2020