Pandemi yang melanda hampir seluruh penduduk dunia, termasuk Indonesia, telah berdampak pada berbagai sektor kehidupan manusia. Pendidikan adalah satu sektor yang merasakan imbas dari pandemi ini. Siswa sekolah dari berbagai tingkat pendidikan terpaksa harus beradaptasi dari sistem belajar tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring dari rumah. Walaupun sekarang kita sedang memasuki masa transisi ke aktivitas “New Normal”, tenaga pendidik tetap harus mampu berinovasi dan unggul dalam mengajar di era kenormalan baru.

Dosen Program Sarjana Sistem Informasi Universitas Kristen Maranatha, Yenni M. Djajalaksana, S.E., M.B.A,. Ph.D. mengatakan, tenaga pendidik memerlukan motivasi untuk terus menggali potensi dan kreativitas yang dimiliki. Hal ini ia sampaikan dalam acara Talk Show Online dengan topik “Difusi Inovasi Pendidikan Tetap Unggul di Era Kenormalan Baru” pada Jumat, 26 Juni 2020.

Menurutnya, memotivasi manusia dari sisi intrinsik atau dorongan hatinya dapat dilakukan dengan memberikan recognition atau pengakuan, baik berupa penghargaan atau bisa dengan metode gamifikasi dengan sistem poin. “Penghargaan seperti best teacher (guru terbaik) dari institusi karena mampu menyelesaikan tugas dengan baik akan membuat mereka merasa bangga dan bisa memberikan inspirasi bagi guru lain supaya bisa seperti ini,” jelas Yenni.

Selain itu, ia menyebutkan, persiapan transisi dari metode pembelajaran yang biasanya dilakukan secara tatap muka menjadi PJJ dalam waktu singkat tentu menyulitkan para guru untuk mempersiapkan materi ajar yang tepat. Hal ini menurutnya karena tenaga pendidik menyadari adanya suatu hal berbeda yang diperlukan untuk tetap mendapatkan atensi dari siswanya. Ia pun sepenuhnya mendukung para guru untuk memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu mengajar.

Oleh karena itu menurutnya, institusi pendidikan harus memperlengkapi guru sekolah, misalkan dengan pendampingan bagaimana menggunakan multimedia yang tepat, supaya ada proses interaktif dan menciptakan engagement (keterlibatan) siswa dalam proses pembelajaran. Guru juga dapat memanfaatkan salah satu jenis aktivitas pembelajaran e-learning, yakni Reusable Learning Object (RLO) sebagai materi belajar, yang dapat dilengkapi lagi sesuai kebutuhan. “Positifnya, saya melihat ini sebagai blessing in disguse pada waktu yang tepat bagi pendidikan di Indonesia. Guru harus menjadi lebih pintar dan kreatif dengan memanfaatkan teknologi yang tepat,” ungkapnya.

Talk show ini dilaksanakan oleh BPK Penabur dengan Heartline Radio bertujuan untuk menginformasikan bahwa BPK Penabur telah mempersiapkan para guru dan tenaga kependidikan institusi dalam menghadapi perubahan saat ini. Selain Yenni, hadir pula Ketua Umum Yayasan BPK Penabur, Adri Lazuardi; serta Praktisi Pendidikan, Indra Charismiadji.

Adri mengatakan, BPK Penabur secara serius mempersiapkan diri menghadapi difusi inovasi pendidikan melalui pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada para guru di 164 sekolah BPK Penabur di Indonesia. Ia berharap pelatihan ini akan menjadi kesempatan bagi para guru untuk memperlengkapi kompetensi diri melalui pengetahuan yang dimiliki guna meningkatkan kualitas PJJ. Universitas Kristen Maranatha melalui Fakultas Teknologi Informasi juga memberikan sumbangsihnya bagi BPK Penabur dengan memberikan beberapa pelatihan di bidang teknologi secara online pada 6-10 Juli 2020. (sg/gn)

Upload pada 1 July 2020