Sebagai wadah bagi kaum muda GKI di seluruh Indonesia, IGNITE GKI untuk pertama kalinya menyelenggarakan IGNITE Conference 2020 Chapter 001 dengan tema “Compassion”. Pada hari Sabtu, 7 Maret 2020 bertempat di Ruang Teater, Gedung Administrasi Pusat (GAP) lantai 8, acara ini turut dihadiri oleh sebanyak 300 pemuda pemudi dari berbagai daerah dan gereja, seperti Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB), Gereja Kristen Oikoumene (GKO), Gereja Kristen Pasundan (GKP), dan Gereja Kristen Indonesia (GKI).

Pimpinan Redaksi IGNITE, Radinal Suryaatmaja sekaligus Ketua Acara menceritakan mengenai IGNITE GKI yang dimulai sejak tahun 2020 berupa buku cetak rohani untuk kaum muda. Kemudian pada tahun 2017, atas landas kerinduan suara Tuhan yang dapat didengar dan diberitakan, IGNITE GKI berubah menjadi komunitas digital ministry dan memiliki berbagai bidang pelayanan, seperti artikel, podcast, praise and worship, dan lain sebagainya.

Pada tahun 2020 ini, IGNITE berkesempatan untuk menjangkau masyarakat secara langsung dan melakukan pelayanan mereka. Melalui kisah perjuangan inilah, maka terpilih tema besar acara ini, yaitu “Compassion”. “Menurut pendeta, compassion adalah gerakan kasih yang tertinggi karena adanya unsur ketulusan. Bagi saya, melihat ketulusan dari setiap gerakan anak-anak GKI di seluruh Indonesia telah sesuai dengantema compassion yang merupakan inti dari pergerakan tersebut,” ungkap Radinal. “Acara ini bertujuan untuk memberikan bentuk nyata dan menginspirasi teman-teman, bukan hanya di dunia maya, tetapi juga di dunia nyata,” lanjutnya.

Sebagai aksi nyata dalam menginspirasi, acara ini diisi dengan rangkaian acara talk show. Dengan menghadirkan enam pembicara, talk show ini dibagi menjadi dua sesi. Dalam sesi pertama, Maria Shierly Fransiska membahas materi berjudul “Berdampak dan Memberi Makna Melampui Keterbatasan”; Claudya Tio Elleossa dengan materi “Hadir dan Bersuara untuk Menjadi Representasi Mereka yang Tidak Diperhitungkan”; dan Rachel Elizabeth Hosanna yang membahas tentang “Kebijakan Berlandaskan Welas Asih (Compassion) sebagai Alternatif Mengatasi Ketimpangan Ekonomi”. Pada sesi kedua, Lily Elserisa dengan materi “Ekologi: Mengelola Bumi dengan Kolaborasi dalam Bentuk Karya Seni Rupa sebagai Ruang Interaksi dalam Masyarakat”; Immanuel Wanda Nugraha membahas materi “Gereja Kini dan Esok: Penggunaan Data Media sebagai Dasar Pengambilan Keputusan dalam Pelayanan Gereja”; dan Josua Satria Collins dengan materi “Melawan Stigma ’Pasif dan Apatis’ Orang Kristen dalam Konteks Hukum dan Politik”.

Tidak hanya itu, berbagai rangkaian acara juga mengisi konferensi ini, seperti persembahan pujian dari Komisi Tuna Rungu GKI Pasirkoja, Immanuel Choir dari GKI Maulana Yusuf Bandung, serta Youth Music Community (YMC) GKI Jakarta dan Bekasi. Selain itu, berbagai cerita inspirasi turut dibagikan dalam podcast live dengan topik “Insecurity” yang terinspirasi dari film Imperfect; kisah dari para penulis dan editor artikel IGNITE dalam acara IGNITE Story yang membahas “Kepenulisan Kristen yang Berdampak”. Sebagai penguatan dari acara ini, Pdt. Risang Anggoro Elliarso, S.Si. menyampaikan khotbah mengenai “Compassion”.

Melalui acara ini, Radinal juga mengajak agar kita bisa terpanggil secara tulus untuk bersuara dan menginspirasi banyak orang di dua dunia, yaitu dunia nyata dan dunia maya. (ns/gn)

Foto: dok. Bidkom (Ditinfo)

Upload pada 10 March 2020