Teater Topeng (TeTo) Universitas Kristen Maranatha dengan bangga mempersembahkan pementasan drama Alice and the Wonderland. Pementasan yang diselenggarakan pada Sabtu, 5 Oktober 2019 di Ruang Teater, Gedung Administrasi Pusat (GAP) lantai 8 ini terbagi menjadi dua sesi dan disaksikan oleh 350 orang. Drama tersebut merupakan hasil adaptasi cerita karya Lewis Carroll, Alice’s Adventure in Wonderland.

Persiapan acara yang memakan waktu selama 15 bulan ini, tentunya didukung oleh semua panitia yang terlibat. Alumnus Program Studi S-1 Sastra Jepang angkatan 2010, Jessica Priscilla Nangoi, S.S. selaku sutradara yang mendukung drama ini menjelaskan bahwa alasan memilih cerita Alice adalah sebagai bentuk inovasi pementasan TeTo yang colourful. Jessica menceritakan melalui berbagai proses dan persiapan yang panjang, pementasan ini berhasil ditampilkan dan memiliki pesan yang tersirat di dalamnya. “Kita harus percaya untuk bisa mewujudkan hal yang mustahil dan waktu itu selalu memberi sebelum mereka mengambilnya kembali,” pesannya. Jessica juga berharap, “Setiap orang yang keluar dari Wonderland bisa mendapatkan hal yang bisa direnungkan dan menjadi satu langkah lebih bijak,” katanya.

Dekan Fakultas Bahasa dan Budaya, Anton Sutandio, Ph.D. pun turut menyaksikan pementasan ini. Anton menyampaikan bahwa beliau mengapresiasi TeTo karena mengadakan pementasan dengan cerita dan fantasi yang secara spektakel dianggap rumit . Beliau juga mengatakan bahwa kostum para pemain, make-up, dan adanya perubahan cerita membuat kesan yang lebih mendalam. “Semoga TeTo bisa mengadakan pementasan lainnya yang bagus juga,” harapnya.

Ivan Adriandiva selaku Ketua TeTo mengucapkan terima kasih atas kehadiran para penonton dalam pementasan kali ini. “Kami berharap penonton bisa menikmati dan mengambil pesan yang sudah kami sisipkan,” ujarnya.

Pementasan teater Alice and the Wonderland menceritakan seorang gadis berumur 18 tahun, bernama Alice. Alice merupakan gadis asal London yang berbeda dengan gadis-gadis umum lainnya. Dari kecil, ia selalu memegang prinsip ayahnya, “tidak ada hal yang mustahil selama kita percaya bahwa hal itu bisa terwujud”. Sayangnya, kepergian ayahnya membuat Alice merasa marah kepada waktu. Baginya waktu bagaikan pencuri yang merampas segala sesuatu tanpa izin. Namun, kisah hidup Alice berubah ketika ia mengikuti seekor kelinci yang terburu-buru dan menghantarkannya ke Wonderland. Di Wonderland inilah, Alice bertemu dengan orang-orang dan makhluk-makhluk lainnya yang mengubah pemikirannya.

Di akhir pementasan, TeTo juga memberikan kesempatan kepada penonton untuk dapat berfoto bersama para pemain. (ns)

Upload pada 9 October 2019