Sektor pariwisata di Indonesia menjadi salah satu komoditas penerimaan devisa negara yang mengalami peningkatan dibandingkan sektor lain pada tahun 2018. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pembangunan pariwisata Indonesia. Begitulah yang disampaikan oleh Dr. Tony Hendratono, S.E., M.M., Direktur Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) Yogyakarta, pada sesi pertama forum diskusi  Spirit of Bandung 2019 yang diselenggarakan di Auditorium Prof. Dr. P. A. Surjadi, M.A., Gedung B Universitas Kristen Maranatha pada 7 November 2019. Wakil Rektor IV UK Maranatha, Nonie Magdalena, S.E., M.Si. bertindak sebagai moderator dalam forum diskusi hari pertama ini.

Pada presentasinya, Tony menegaskan bahwa pembangunan kepariwisataan harus mampu mendapatkan dukungan secara ekologis dan layak secara ekonomis. Selain itu, layak juga secara etika dan keadilan sosial terhadap masyarakat terkait. Menurutnya terdapat empat parameter untuk menakar keberhasilan konsep Sustainable Tourism Development sebagai salah satu strategi perencanaan pembangunan pariwisata Indonesia, yaitu mampu berlanjut secara lingkungan, diterima oleh masyarakat sekitar, layak serta menguntungkan secara ekonomi, dan terpenting adalah memanfaatkan teknologi yang tepat guna.

Pemanfaatan teknologi ini telah diterapkan dalam proyek kerja sama internasional antara Indonesia dan China melalui pembangunan kereta api cepat yang menghubungkan Jakarta dengan Bandung. Proyek yang digarap oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) dibangun sepanjang 142,3 km dengan rute pemberhentian di Stasiun Halim, Stasiun Karawang, Stasiun Walini, dan Stasiun Tegalluar dengan kecepatan kereta 350 km/jam.

Hal tersebut disampaikan oleh Vice General Manager China Railway Group Limited, Mr. Hu Qisheng dalam pemaparannya. Ia juga membahas bagaimana perlindungan lingkungan menjadi dasar pembangunan jalur kereta api cepat ini tanpa harus mengubah bentuk aslinya. Seperti konstruksi hijau pembangunan terowongan kereta cepat Jakarta-Bandung yang tidak mengubah bentuk bukit sebenarnya, hingga membangun lebih banyak jembatan dibandingkan di alas jalan. Selain itu ia menambahkan bahwa pembangunan jalur ini juga mempertimbangkan perlindungan untuk mengurangi polusi udara dengan membangun peralatan khusus, sehingga masyarakat sekitar tidak terganggu apabila kereta melintasi daerah mereka.

Selain Tony dan Hu Qisheng, turut hadir pula Dr. Krismanto Kusbiantoro, M.T. dan Mr. Li Hao untuk memaparkan materi mereka. Dr. Krismanto sebagai dosen, Kepala Program Sarjana Arsitektur UK Maranatha, dan Kepala Pusat Studi Tionghoa Diaspora mempresentasikan materi berjudul “Industri Ekowisata dan Wisata Budaya di Pulau Bangka: Antara Tantangan dan Potensi”. Pada kesimpulannya beliau mengatakan bahwa penempatan sektor pariwisata sebagai sektor kunci dalam peningkatan pendapatan daerah di Bangka membutuhkan strategi komprehensif dan kebijakan pemerintah yang tepat. “Ada banyak potensi pariwisata lain yang masih bisa dieksplorasi, yang melibatkan semua pihak,” ujar Dr. Krismanto.

Dosen dari Hebei University yang berkecimpung di bidang ekosistem, Mr. Li Hao pun mempresentasikan topik mengenai bagaimana menyelesaikan permasalahan lingkungan berdasarkan kondisi alam dengan contoh solusi di wilayah Beijing, Tianjin, dan Hebei. Beliau menjelaskan mengenai Forest Landscape Restoration (FLR), yaitu proses jangka panjang untuk mendapatkan kembali fungsi ekologis dan meningkatkan kesejahteraan manusia di lanskap hutan yang mengalami deforestasi atau degradasi. Selain hutan, FLR ini juga bisa diterapkan di bidang pertanian hingga transportasi melingkupi kereta api.

Forum diskusi ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian acara Spirit of Bandung  (SoB) keempat yang diadakan selama dua hari, 7-8 November 2019. Acara ini dilatarbelakangi oleh prinsip kerukunan dan kerja sama internasional yang terbentuk sejak Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Universitas Kristen Maranatha (Indonesia) dan Hebei Normal University (Tiongkok) memprakarsai simposium tingkat internasional yang berlangsung setiap dua tahun sejak 2013 untuk mendorong rasa saling pengertian antarbudaya yang beragam, hingga meningkatkan persahabatan antarmasyarakat.

Mengangkat tema “Ecotourism Industry Development and Environment Protection”, SoB 2019 ingin menyikapi perkembangan ekowisata sebagai salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan melalui potensi pariwisata di Jawa Barat dengan pembangunan infrastruktur kereta api cepat Jakarta-Bandung. Acara ini dibuka dengan sambutan dari Plh. Gubernur Jawa Barat, H. Uu Ruzhanul Ulum. (sg)

Baca juga : 4th Spirit of Bandung Bahas Pengembangan Industri Ekowisata Indonesia-Tiongkok

Upload pada 8 November 2019