Budaya Sunda yang secara umum berkembang di wilayah Jawa Barat tentunya turut mengalami perubahan di era disrupsi. Sebagai masyarakat yang tinggal di Jawa Barat, kita juga perlu membarui pengetahuan tentang hal yang terjadi seputar kebudayan Sunda.

Oleh karena itu, untuk memperluas cakrawala pengetahuan tentang budaya Sunda dari masa ke masa serta mengetahui bagaimana budaya Sunda dapat bertahan di era digital dan percepatan industri, Program Sarjana Seni Rupa Murni Universitas Kristen Maranatha bersama dengan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) dan Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB) mengadakan Seminar Kebudayaan secara virtual bertajuk Budaya Sunda: Dulu, Kini, dan Esok. Acara yang diselenggarakan melalui platform Zoom pada tanggal 22 Oktober 2020 ini mengangkat tema “Budaya Sunda dalam Konteks Multikultural di Era Disrupsi”.

Acara tersebut menghadirkan beberapa pembicara. Pertama, Prof. Dr. Arthur S. Nalan, S.Sen., M.Hum. (Institut Seni Budaya Indonesia) sebagai keynote speaker membawakan materi mengenai “Daya Hidup dan Daya Guna Kebudayaan Sunda Menembus Waktu” untuk mengingatkan supaya kita tidak lupa dengan kebudayaan sendiri. Ia juga mencoba menyampaikan kepada khalayak untuk dapat terus mengembangkan produk-produk budaya, seperti tulisan, bahasa, ataupun batik, agar kebudayaan tetap lestari. Prof. Arthur juga menjelaskan mengenai perjalanan budaya Sunda dari waktu ke waktu.

Pembicara kedua, Drs. Lucky Hendrawan, M.Sn. (Institut Teknologi Harapan Bangsa) membahas topik “Batara Guru (Pusat Kecerdasan Manusia)”. Dalam pembahasannya Lucky mengatakan, setiap zaman telah memiliki caranya sendiri dalam merekam setiap kejadian penting. Selain itu, masyarakat zaman dulu sudah mencapai kecerdasan dalam memahami manusia dan kehidupan.

Sementara itu, dosen sekaligus Ketua Program Sarjana Seni Rupa Murni Maranatha, Dr. Ismet Zainal Effendi, S.Sn., M.Sn. turut memberikan materi sebagai pembicara terakhir. Ia membawakan materi mengenai “Nilai-nilai Mitologi pada Kebudayaan Sunda”. Dalam kesempatan tersebut, Ismet membahas mengenai mitos yang ada dalam kebudayaan Sunda yang sangat kaya secara visual, estetika, dan memiliki nilai-nilai ajaran luhur. Mitos merupakan ilmu pengetahuan dan cerita tradisional yang mempersembahkan hal-hal yang supranatural tentang nenek moyang, ataupun legenda kepahlawanan yang disajikan dalam gaya dan dengan sudut pandang masyarakat primordial.

Ismet juga mengatakan bahwa Seni Rupa Murni memiliki tanggung jawab sebagai institusi pendidikan untuk menyampaikan topik ini kepada khalayak untuk bisa memiliki kebanggaan, keberpihakkan pada kearifan lokal, dan bertanggung jawab untuk melestarikan budayanya sendiri. Ia pun mengungkapkan bahwa Seni Rupa Murni juga memiliki konteks multikultural entrepreneurship, artinya semua program akademik, kurikulum, dan juga kegiatan tridarma merujuk pada hal tersebut. “Karena bagaimana pun kita hidup dalam era disrupsi, era kolaborasi, era kerja sama antardisiplin sehingga satu kebudayaan dan kebudayaan lainnya itu masih bersinggungan dan menimbulkan suatu kultur baru yang disebut multikultural,” pungkasnya.

Setelah seluruh materi disampaikan, acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang pandu oleh salah satu dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain UK Maranatha, Dr. Dra. Ariesa Pandanwangi, M.Sn. Acara ini berhasil menarik peserta sebanyak 159 orang yang terdiri atas mahasiswa, dosen, dan juga pemerhati budaya Sunda. (gn)

 

Foto: dok. Program Sarjana Seni Rupa Murni Universitas Kristen Maranatha via Zoom

 

 

Upload pada 28 October 2020