Situasi pandemi di masa ini telah memengaruhi berbagai macam sektor, salah satunya adalah sektor perekonomian. Bisnis-bisnis yang mengandalkan penjualan secara offline pun terkena imbas, tak terkecuali bisnis retail. Meskipun kondisi tidak memungkinkan, para pemilik bisnis pun perlu memikirkan strategi penjualan dan pemasaran agar target tetap tercapai. Hal-hal tersebut pun dibahas secara lengkap melalui seminar online bertajuk “New Normal Consumer Behaviour in Retail Business” pada tanggal 6 Juni 2020.

Seminar yang diselenggarakan oleh Program Sarjana Teknik Industri Universitas Kristen Maranatha tersebut menghadirkan Verry Octavianus sebagai narasumber. Saat ini, Verry bekerja sebagai Senior Professional – Head of Premium Internet & Mobile di salah satu perusahaan elektronik multinasional asal Korea Selatan. Sebagai alumnus dari Teknik Industri angkatan 2001, ia berbagi pengalaman kepada para dosen, alumni, dan mahasiswa Teknik Industri tentang perilaku konsumen dan juga strategi yang disiapkan perusahaannya dalam era new normal di Indonesia.

Dalam situasi pandemi, Verry mengatakan bahwa perilaku konsumen mengalami empat perubahan besar. Empat perubahan tersebut adalah imbauan untuk tetap di rumah, back to bottom pyramid, go virtual, dan emphatic society. Dengan berkegiatan di rumah saja, para konsumen pun akhirnya mengubah perilaku pembelian menjadi secara online. “Dalam hal ini, bisnis yang berhubungan dengan layanan pesan antar makanan dan frozen food justru mengalami peningkatan,” ujar Verry. Terkait dengan back to bottom pyramid, Verry menyampaikan bahwa banyak bisnis yang memulai dari bawah lagi. Contohnya adalah restoran yang membuka gerai di pusat perbelanjaan, akhirnya beralih dengan berjualan menggunakan mobil di jalan.

Verry pun menambahkan bahwa dengan adanya imbauan untuk di rumah, go virtual menjadi salah satu hal yang berkembang. Orang-orang menggunakan aplikasi video call seperti Zoom, Google Meet, Webex, dan lain-lain sebagai media untuk bekerja dan sekolah. Terakhir, masa-masa sulit seperti ini pula membangkitkan rasa empati konsumen terhadap orang lain. “Akhirnya, banyak youtuber atau perusahaan yang melakukan penggalangan dana dan menyumbangkan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis,” ujar Verry.

Dengan adanya empat perubahan tersebut, Verry pun menyiasati beberapa cara agar perusahaannya tetap bisa mencapai target. Pertama, ia mengalihkan proses penjualan yang bersifat offline menjadi online. Dengan begitu, perusahaan dapat membantu distributor-distributor agar roda bisnis tetap berjalan. Bahkan, perusahaannya memberi edukasi kepada para distributor tentang berjualan secara online, seperti cara berjualan menggunakan platform e-commerce. Hal kedua yang dilakukan adalah dengan membuat video campaign. “Dalam video ini, kita ingin menyampaikan pesan bahwa meskipun kita harus menjalani pembatasan sosial, kita tetap bisa berkomunikasi dengan orang-orang terdekat kita,” kata Verry.

Strategi ketiga yang diambil adalah dengan melakukan kolaborasi bersama para vlogger yang bekerja sama dengan perusahaannya untuk mengadakan acara secara virtual. Contohnya adalah dengan berkolaborasi menggunakan platform Zoom dan Google Hangout. Selain itu, virtual experience pun diterapkan oleh perusahaan guna memberi edukasi terhadap konsumen. Langkah terakhir yang dilakukan adalah dengan melakukan Customer Database Mining (CDM). “Perusahaan kami akan mencari data konsumen. Kami melihat kebiasaan-kebiasaan yang konsumen lakukan saat menggunakan produk kami, lalu membuat promo yang sesuai dengan kebiasaan tersebut,” kata Verry.

Seminar ini pun ditutup dengan adanya sesi tanya jawab bagi para peserta. Tak hanya itu, Verry pun berbagi suka duka tentang perjalanannya berkarir di perusahaan Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) dan perusahaan retail selama 15 tahun terakhir ini. (cm/gn)

Foto: dok. Bidkom – Ditinfo

Upload pada 9 June 2020