Mengomentari fisik orang lain atau yang dapat disebut body shaming memang sering terjadi di sekitar kita. Kita bisa jadi korbannya atau juga menjadi pelakunya tanpa disadari. Tema “Stop Body Shaming” yang diangkat dalam Seminar Nasional 2019 yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi pada Rabu, 8 Mei 2019 ini ingin membahas isu tersebut untuk menyadarkan masyarakat dan mengarahkannya untuk menjadi agen-agen yang berperan positif melawan tindakan body shaming.

Dalam pembukaan acara yang dilakukan di Ruang Teater, Gedung Administrasi Pusat lantai 8, Efnie Indrianie, M.Psi., Psikolog selaku Ketua Acara menjelaskan latar belakang dari tema yang diambil. Menurut hasil survei terbaru, hampir sebagian besar wanita dan pria pernah menjadi korban body shaming. Di era digital, setiap orang bebas mengekspresikan sesuatu, meskipun ternyata itu adalah tindakan yang mungkin tanpa disadari menyakiti orang lain dalam bentuk body shaming.

“Dalam kesempatan ini, kami ingin memberikan bekal bahwa ternyata mungkin ada ucapan yang sering kita lakukan sehari-hari dan kita tidak menyadari bahwa ternyata itu adalah body shaming. Tidak sedikit pula korban body shaming harus mengalami rehabilitasi mental dan tidak sedikit juga dari mereka yang survive dan justru menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya. Untuk itu manfaatkan kesempatan ini untuk belajar bahwa body shaming itu memiliki dampak, baik terhadap korban maupun pelaku,” kata Efnie menambahkan.

Sesi seminar diisi oleh dua pembicara yang hadir untuk membagikan materi, yaitu Meira Anastasia dan Dwi Prihandini, M.Si., Psikolog. Meira Anastasia yang merupakan istri dari seorang komika dan sutradara, Ernest Prakarsa, berkesempatan untuk menceritakan pengalaman pribadinya saat mengalami body shaming yang didapatnya melalui komentar-komentar di media sosial dan caranya untuk menghadapi body shaming yang menimpanya.

Dwi Prihandini yang merupakan pakar psikologi mengupas isu body shaming dari segi psikologi sosial. Menurutnya, body shaming merupakan bagian dari bullying yang merupakan tindakan kekerasan yang dapat dilakukan dalam bentuk kekerasan verbal. Di Indonesia sendiri terdapat banyak kasus yang telah dilaporkan. “Di tahun 2018, di Indonesia terdapat sekitar 966 kasus body shaming yang dilaporkan. Angka tertinggi kecenderungan dilakukan oleh kalangan ibu-ibu dengan perolehan angka 62,7%,” jelasnya. Dalam menghadapi body shaming, Dwi menyarankan agar para korban berani untuk melaporkannya pada pihak berwajib karena kini sudah memiliki undang-undang yang berlaku, tujuannya adalah untuk membuat jera para pelaku. Selain itu, para korban sebaiknya mencari lingkungan positif yang dapat menghargai dirinya dan juga dapat melawan para pelaku dengan sikap yang positif.

Unit kegiatan mahasiswa, Teater Topeng, turut mengisi seminar ini dengan drama pendek yang menggambarkan kejadian body shaming yang terjadi di sekitar kita. Fakultas Psikologi dengan ini terpanggil untuk melakukan sesuatu untuk menghentikan tindakan body shaming. “Jadilah agen-agen yang berperan positif terhadap kehidupan anak muda dengan mengatakan stop melakukan body shaming,” pesan Dekan Fakultas Psikologi, Dr. Dra. O. Irene Prameswari E., M.Si. pada peserta. (gn)

Upload pada 9 May 2019