Dialog lintas agama Indonesia-Australia untuk pertama kalinya diadakan dalam perhelatan The First Indonesia-Australia Interfaith Dialogue (IAID) di Bandung, 13-14 Maret 2019. Dialog bertemakan “Sharing Experiences and Best Practice” ini diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, bekerja sama dengan Universitas Kristen Maranatha. Cecep Herawan, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri menjelaskan, “Dialog dilakukan untuk mencari kesamaan di antara kita dan belajar bagaimana menciptakan masyarakat yang lebih toleran dan mengedepankan keharmonisan dalam berbangsa dan bernegara. Itu kunci untuk semua negara bisa terus menumbuh-kembangkan pembangunan di negara masing-masing”.

Gary Quinlan, Duta Besar Australia untuk Indonesia yang turut hadir dalam seluruh rangkaian acara mengatakan, “Saya ingin mengetahui apa yang generasi muda rasakan mengenai keagamaan, demokrasi, dan masa depan negara mereka sendiri. Hal itu dapat menjadi pembelajaran bagi kedua negara untuk menyikapi apa yang terjadi di negaranya masing-masing”.

Forum dialog yang diselenggarakan pada hari Rabu (13/3) diselenggarakan di Hotel De Paviljoen, Bandung, membahas isu-isu yang tengah menjadi perhatian kedua negara, antara lain tentang “Democracy, Religion, and Pluralism”; “Freedom  of  Expression:  Spreading  Peaceful  Messages  and  Combatting  Misuse  of Media”; dan  “Addressing the problems: Strengthening Cooperation and Advocating Policy towards Inclusive Society”. Pembicara yang mewakili Indonesia dalam forum ini adalah Dr. Pradana Boy (Wakil Staf Khusus Presiden untuk Isu Keagamaan Internasional), Dr. Ahmad Munjid (Peneliti Senior pada Center for Security and Peace Studies), Zulfiani Lubis (Pemimpin Redaksi IDN Times), Dr. Saefudin Syafi’i (Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama – Kementerian Agama), dan K.S. Arsana (Ketua Prajaniti Hindu Indonesia). Pembicara delegasi dari Australia adalah Pendeta Samuel Green (Ketua Bidang Hubungan Lintas Agama pada Gereja Anglikan Australia), Umesh Chandra (Tokoh Hindu pada Universitas Queensland) dan Elizabeth Vaag (Biarawati). Mewakili Universitas Kristen Maranatha, Pdt. Obertina Modesta Johanis, M.Th. (Cand.), dan Drs. Robert Oloan Rajagukguk, M.A., Ph.D. hadir sebagai moderator.

“Sejak Indonesia berdiri hingga kini, Pancasila telah menjadi pelindung bangsa dari potensi perpecahan sebagai konsekuensi keberagaman. Dialog antar-umat beragama perlu dilakukan dalam berbagai ranah dan bentuk. Perguruan tinggi memainkan peran penting dalam mengupayakan interfaith dialogue. Kerja sama Indonesia dan Australia dapat menjadi forum saling belajar dalam meningkatkan efektivitas dari interfaith dialogue yang dilakukan oleh kedua negara”, ungkap Robert Oloan menyimpulkan sesi dialog yang dipimpinnya. “Perguruan tinggi perlu menciptakan semangat inklusivisme sebagai prioritas dalam relasi antara pribadi maupun antargolongan. Lulusan perguruan tinggi yang punya semangat inklusif, kepekaan budaya, dan solusi inovatif dalam menghadapi perbedaan keyakinan, akan menjadi agen perubahan dalam menjaga kerukunan antarumat beragama”, lanjutnya.

Menggarisbawahi paparan dari Dr. Pradana Boy, Pdt. Obertina manyampaikan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat besar dengan berbagai keragaman; budaya, bahasa, suku, dan agama. “Semua keragaman itu dapat tetap terjaga karena ada Pancasila sebagai filosofi hidup bersama. Indonesia akan tetap bertahan seperti itu meskipun ada usaha-usaha untuk mengubahnya, jika rakyat masih melihat Indonesia yang beragam sebagai sebuah imagine community, masyarakat yang diidam-idamkan”, papar Obertina.

Rektor Universitas Kristen Maranatha, Prof. Ir. Armein Z. R. Langi, M.Sc., Ph.D. dalam sambutannya sebagai tuan rumah rangkaian acara kuliah umum dan pemutaran film di kampus Maranatha, Kamis (14/3) menyatakan, “Melalui kegiatan ini kita dapat semakin terbuka pikiran akan adanya pluralisme di dunia dan menambah pengetahuan secara spiritual, dan tentu saja diharapkan dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata”. Kuliah umum yang diadakan di kampus Maranatha mengusung tema “The Use of Social Media for Interfaith Dialogue and Spreading Peace”, dengan pembicara Dr. Zuleyha Keskin, Director of the Melbourne Branch of Islamic Sciences and Research Academy (ISRA) dan dimoderatori oleh Tich Quang Ba, National Elders Council for Sangha Association of Australia. Kegiatan berlanjut dengan movie screeningDa’wah” (disutradarai Italo Spinelli, Italia) yang diikuti diskusi bersama Dr. Keskin dan Pdt. Yohanes Bambang M., M.Th. (Pendeta Universitas Kristen Maranatha).

Upload pada 15 March 2019