Pandemi Covid-19 memberikan dampak pada berbagai industri, termasuk industri fesyen. Oleh karena itu, untuk mengetahui dampak pandemi dan apa yang dilakukan pelaku usaha di bidang industri fesyen, Program Diploma Seni Rupa dan Desain Universitas Kristen Maranatha menggelar webinar bertajuk The Future of Fashion Creativity: Being Ready as a Designer for the New Challenge. Webinar yang diadakan pada Sabtu, 25 Juli 2020 ini menghadirkan tiga narasumber yang aktif dalam industri fesyen, yaitu Riri Rengganis, Rizal Tanzil Rakhman, dan Marselina Anggita Manalu.

Riri Rengganis, owner brand Rengganis dan Indische, yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Indonesian Fashion Chamber mengatakan, masa pandemi ini memberikan dampak negatif pada bisnisnya. Namun, tidak sulit baginya untuk mencari produk yang relevan. Ia kemudian berkarya dengan membuat produk yang ia sebut masker premium untuk dipadankan dengan best sellers koleksi produknya. Pembuatan produk fesyen juga disesuaikan dengan kondisi yang sedang berlangsung, misalnya kondisi work from home (WFH). Riri berpendapat, walaupun masker bukanlah barang fesyen, tetapi jika dikerjakan sunggguh-sungguh, masker bisa menjadi barang fesyen dan yang bisa menyelamatkan bisnisnya hingga ia dapat kembali menggaji pegawainya.

Riri mengatakan, fesyen itu tidak berubah banyak, hanya berbeda dari proporsinya saja. “Dulu fesyen menjadi wahana ekspresi atau pesan yang ingin disampaikan seseorang sesuai dengan karakter kelompoknya. Saat ini, fesyen itu lebih pada fungsi dan estetika. Ekspresi dari sebuah desain pakaian turut menjadi nilai tambah yang akan menentukan laku atau tidaknya brand, tetapi itu bukan prioritas lagi”.

Salah satu alumnus Program Diploma Seni Rupa dan Desain Maranatha, Marselina yang kini menjadi co-owner dari Godlyte, serta professional fashion designer and trend analyst juga mendapatkan kesempatan untuk membagikan pengalaman bisnisnya selama pandemi. Kendala yang dihadapinya, antara lain penjualan menurun, keterlambatan pengiriman, penumpukan stok, dan lain-lain.

Jika pengusaha lain banyak memproduksi masker nonmedis, Marselina menyalurkan bakatnya dengan meluncurkan new collection bertemakan pandemi atau new normal. “Menurut saya, as a designer, sebagai yang sudah terjun di industri yang merasakan asam pahitnya, saya hanya mau bilang untuk berpikir hal yang tidak terpikir oleh orang lain,” ungkap Marselina.

Marselina kemudian menjelaskan hal lain yang ia lakukan selama pandemi. “Selama pandemi yang saya lakukan adalah bukan pesimis, yang saya lakukan bukan menyerah, tetapi saya belajar,” tuturnya. Waktu tersebut ternyata digunakannya untuk melakukan development pada bahan baku kain yang akan ia gunakan untuk menciptakan karya desainnya. Setelah itu, Marselina pun menceritakan pengalamannya berkerja di bidang fesyen, seperti perbedaan kualitas dan harga pada produk yang diproduksi secara hand made dan massal.

Penjelasan dari sudut pandang industri tekstil kemudian diberikan oleh Rizal Tanzil Rakhman yang merupakan Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). Ia menjelaskan mengenai industri tekstil yang mendukung perkembangan industri fesyen di Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki struktur industri tekstil yang lengkap untuk mendukung industri fesyen nasional. Indonesia juga memiliki produk tekstil yang akan menjadi andalan, yaitu rayon. Rizal juga menjelaskan tugas API yang menjadi penghubung bagi empat komponen industri tekstil, meliputi produsen, lembaga pelatihan, usaha ataupun industri kecil menengah (UKM dan IKM), dan supplier aksesori.

Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Seni Rupa dan Desain, Isabella Isthipraya Andreas, S.Ds., M.Ds. berpesan, “Yuk mari menghadapi masa depan! Walaupun beda ‘kapal’, kita perlu berkolaborasi dan sharing satu sama lain supaya kita bisa dapat solusi yang paling oke. Zaman sekarang adalah masanya kolaborasi, bukan kompetisi.” (gn)

Upload pada 30 July 2020