Program Sarjana Desain Interior dan Program Sarjana Arsitektur kembali menyelenggarakan webinar bertajuk Meet Your Virtual Future. Webinar yang diadakan pada Jumat, 19 Juni 2020 ini turut didukung oleh Himpunan Desain Interior Indonesia (HDII) Jawa Barat serta PT ACA Pacific. Melalui kesempatan ini, para peserta diajak untuk melihat teknologi terkini yang dipakai oleh desainer interior maupun artsitek. Karena itu, pembicara yang dihadirkan pun merupakan orang-orang yang telah berpengalaman dalam bidang desain interior dan arsitektur. Mereka adalah Bily Pujianto, S.Ds., Komisi Kreatif HDII; Rio Yandri, S.T., Lead 3D Visualisation SSH Kuwait; dan Kiki Richardus Susilobroto, S.T., Architecture Softwares Technical Manager PT ACA Pacific.

Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Irena Vanessa Gunawan, S.T., M.Com. mengatakan, generasi sekarang dituntut untuk memiliki pemahaman teknologi yang dapat membantu desainer ataupun klien dengan sentuhan teknologi. “Saat ini, interior bukan hanya berbicara tentang elemen fisik, tetapi juga telah masuk ke dalam virtual spaces,” tutur Irena.

Ia berpendapat, pembicara yang diundang dalam kesempatan ini dapat memberikan pandangan dari segi profesional sehingga para peserta dapat melihat teknologi yang diterapkan pada dunia pekerjaan bidang desain interior dan arsitektur. Irena juga mengatakan, “Maranatha menggandeng mitra-mitra yang keren ini supaya dapat melakukan percepatan dan terdepan untuk berbagi wawasan yang terbaru sehingga mahasiswa atau adik-adik yang nantinya akan bergabung dengan kami selalu di-update oleh para pakarnya”.

Dalam sesi materi, Bili Pujianto berkesempatan untuk memperlihatkan pengerjaan arsitektur dengan menggunakan teknologi, seperti 3D mapping dan Virtual Reality (VR). Ia pun memberikan informasi teknologi apa saja yang sangat membantu pada saat survei ke lapangan.

Rio Yandri pun menambahkan mengenai pentingnya persentasi visual dalam industri desain interior dan arsitektur. Menurutnya, 3D printing itu sangat berguna untuk memperihatkan hasil desain kita ke klien karena hal ini dapat memuaskan klien dengan sensasi melihat model langsung dengan tangan mereka. “Hal ini sudah umum digunakan untuk membantu mempresentasikan pekerjaan kita,” tambahnya.

Selain itu, teknologi Virtual Reality (VR) yang dipakai saat ini tergolong hal baru dalam visualisasi arsitektural. Namun, permintaan menggunakan VR kini mulai naik karena klien ingin merasakan feel dari ruangannya. Untuk memperjelas, Rio memberikan penjelasan mengenai perbedaan antara Virtual Reality dan Augmented Reality kepada peserta, serta penerapannya dalam desain interior dan arsitektur.

Selanjutnya, Kiki Richardus menjelaskan perkembangan teknologi bidang dokumentasi dan visualisasi yang sudah diterapkan pada industri arsitektur. Teknologi yang saat ini sedang dikembangkan di arsitektur dan konstruksi adalah Building Information Modeling (BIM). Dengan BIM, desainer dapat menyimulasikan semua informasi dalam proyek dalam model 3D. “Jadi, BIM ini sebenarnya sebuah konsep atau metode pengerjaan proyek yang diproyeksikan ke dalam model tiga dimensi,” jelas Kiki.

Kiki juga menjelaskan mengenai automatic documentation dan realistic visualisation, terutama bagaimana BIM dapat menunjukan dokumentasi otomatis dan visualisasi yang realistik. Dengan teknologi yang berkembang, para pekerja di industri arsitektur dituntut untuk dapat menghasilkan visualisasi yang nyata untuk menyamakan persepsi. “Kita dituntut untuk bisa menghasilkan visualisasi yang mewakilkan ide kita secara real atau photo-realistic, seakan-akan seperti betulan. Di sinilah peran visualisasi yang sangat penting. Jadi, tidak ada lagi perbedaan persepsi antara kita dan klien,” ucapnya.

Sebagai penutup, Kiki berpesan, “Semua ini hanya alat bantu. Apapun bisa digantikan oleh teknologi, tetapi ada satu yang tidak bisa tergantikan, yaitu ide. Ide kita tidak bisa tergantikan sampai kapan pun”. (gn)

 

Upload pada 25 June 2020