Berprofesi di dunia akuntansi secara umum mendapat kesan di masyarakat sebagai profesi yang hanya menghitung uang, kurang menarik, jarang berinteksi, bahkan mungkin membosankan. Ditambah dengan asumsi bahwa perkembangan teknologi akan menggantikan keberadaan profesi tersebut. Namun, profesi akuntan ternyata telah mengalami banyak perkembangan untuk memenuhi kebutuhan di era industri 4.0. Akuntan saat ini mampu memberikan solusi bisnis, membangun strategi bisnis perusahaan, menilai kewajaran laporan keuangan, dan menilai kelayakan produk dari segi biaya.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh dosen Program Sarjana Akuntansi Universitas Kristen Maranatha, Dr. Anthonius, S.E., M.M., Ak., CA., ACPA. dalam acara Webinar Series yang dilaksanakan oleh Direktorat Pemasaran UK Maranatha pada 24 Juni 2020. Seminar online yang bertajuk “Mengenal Profesi, Peluang Kerja,& Dunia Akuntan Lebih Jauh” diikuti sekitar 550 peserta, mulai dari siswa SMA, mahasiswa, hingga tenaga kerja umum.

Menurutnya, belajar akuntansi menjadi sangat penting karena diperlukan dalam berbagai bagian kehidupan maupun bisnis. Perusahaan besar, bisnis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), lembaga-lembaga nonprofit, hingga rumah tangga memerlukan ilmu akuntansi dalam mengelola keuangannya.

Ada banyak peluang profesi yang dapat dipilih setelah menyelesaikan pendidikan sarjana akuntansi. Contoh yang Anthonius sebutkan adalah akuntan publik, konsultan pajak, business analyst, financial analyst, dan wiraswasta.

Lebih lanjut, Anthonius menjelaskan, lulusan akuntansi juga bisa memilih untuk mengambil program setifikasi profesional, seperti Chartered Financial Analyst (CFA) yang telah diakui seluruh dunia karena memiliki peluang kerja besar dengan gaji tinggi. “Yang sekarang sedang populer juga adalah sertifikasi Corporate Social Responsibility (CSR) untuk membuat laporan Substainability Reporting perusahaan. Kerjanya bukan menghitung angka, tetapi penyusun laporan semenarik mungkin dan mengumpulkan data terkait hal-hal yang perusahaan telah lakukan untuk karyawan, masyarakat sekitar, dan lingkungannya,” jelasnya.

Dalam sesi tanya jawab, peserta juga menyoroti kecemasan mengenai kemungkinan profesi akuntan yang akan digantikan oleh teknologi. Menurut Anthonius, profesi akuntan memiliki usia hidup yang lebih lama karena dalam proses kerja sebuah aplikasi, tetap dibutuhkan logical thinking akuntan. Ia menjelaskan, aplikasi digital secara sederhana hanya bisa mengelola laporan keuangan, tetapi analisis aset perusahaan, penyesuaian data, hingga memasukkan data ke aplikasi tetap harus dilakukan akuntan. “Jadi tools itu hanya untuk membantu pekerjaan seorang akuntan, sisanya tidak bisa digantikan karena membutuhkan logical thinking dan daya nalar. Saya rasa salah satu profesi yang tidak bisa digantikan oleh digital adalah akuntan,” jelasnya. (sg/gn)

Upload pada 29 June 2020