Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) dengan tema “Upaya Pengembangan Kemampuan Mengelola Emosi pada Anak Usia Prasekolah” pada 10 Januari 2022. Kegiatan berbentuk pelatihan dan pemaparan materi ini dilakukan di TK Taman Kreatif Tirtayasa, Bandung dan diikuti oleh orang tua siswa serta para guru TK Taman Kreatif Tirtayasa.

Kegiatan diawali dengan sambutan dan pengarahan dari Kepala Sekolah TK Taman Kreatif Tirtayasa, Dra. Rita Djuliarti, Psikolog. Ia menyampaikan tujuan serta manfaat yang dapat diperoleh para orang tua dan guru melalui materi dan diskusi yang dilakukan sepanjang kegiatan PKM.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi yang disampaikan oleh dosen Fakultas Psikologi UK Maranatha, Dra. Endeh Azizah, M.Si., Psikolog. Ia menjelaskan bahwa perkembangan emosi pada siswa prasekolah merupakan hal yang penting karena dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam mengikuti proses pembelajaran di sekolah. Salah satu bagian yang perlu dikembangkan anak adalah kemampuan mengelola emosi. Ketika anak mampu mengelola emosinya, maka akan mudah bagi mereka untuk mengekspresikannya dengan baik di lingkungannya. Untuk mencapai kemampuan tersebut, setiap anak perlu mendapat dukungan, bimbingan, dan pengarahan orang tua.

Kemampuan mengelola emosi merupakan salah satu tanda kemajuan perkembangan anak di usia 3 hingga 6 tahun. Sangat penting bagi setiap anak untuk menyesuaikan diri di lingkungannya. Salah satu contoh ekspresi dari emosi anak yang terkelola dengan baik adalah ketika mereka tidak memukul temannya meskipun merasa kesal karena mainannya diambil. Anak perlu belajar menyatakan kemarahannya secara verbal, seperti “Jangan mengambil mainan saya” atau “Kembalikan mainan saya”.

Cara lain yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan menunda pemenuhan permintaan anak dalam jangka waktu tertentu. Salah satu contohnya adalah ketika anak meminta ice cream di jadwal makan siang, orang tua dapat mengatakan “Beli ice cream-nya setelah makan ya”. Dengan demikian, anak akan belajar untuk menunda pemuasan terkait keinginannya.

Terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah anak-anaknya melakukan tingkah laku agresi, seperti menerapkan disiplin pada anak secara konsisten, hindari tayangan televisi rumah yang berisi konten kekerasan, menciptakan suasana yang penuh kebahagiaan di dalam keluarga, serta menghindari pertengkaran orang tua yang memperlihatkan adegan berdebat, berteriak, dan kekerasan di depan anak.

Jika anak sudah melakukan tingkah laku agresi, maka orang tua harus segera melakukan tindakan untuk menghentikan keberlanjutannya. Orang tua dapat memberi apresiasi terhadap tindakan baik anaknya agar mereka termotivasi untuk terus mengulang tindakan baik tersebut. Mengajari anak tentang keterampilan sosial juga merupakan hal yang penting. Anak perlu belajar mengatakan apa yang dirasakan atau dipikirkan tanpa menyakiti orang lain, misalnya mengatakan “tidak senang” atau “tidak suka” ketika hal buruk menimpanya. (ra/gn)

 

Foto: dok. Dra. Endeh Azizah, M.Si., Psikolog

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 23 February 2022