Masalah lingkungan hidup dan pelestariannya kini menjadi topik yang perlu disadari dan diketahui oleh masyakarat dunia. Diskusi mengenai pariwisata dan lingkungan hidup, menjadi topik utama dalam kelas paralel 4th Spirit of Bandung, Jumat (8/11), di kelas A03, lantai 9, Gedung B Universitas Kristen Maranatha.

Gai Subagya Suhardja, Ph.D., Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain UK Maranatha, dalam sesi pertama diskusi membahas mengenai daya tarik wisata lingkungan hidup alami. Ia menjelaskan, “Lingkungan alamiah adalah untuk hidup apa adanya, baik itu makhluk hidup, tumbuhan, binatang, dan manusia.” Menurutnya lingkungan alamiah ini merupakan estetika, keindahan interaksi antara makhluk hidup dengan objek alam yang mempunyai efek kesejahteraan. “Keindahan alam tentu bisa digambarkan melalui sebuah lukisan. Namun keindahan sebuah lukisan itu akan kalah dengan keindahan alamnya langsung,” katanya.

Tidak bisa dimungkiri, keindahan alamiah juga sering kali dirusak oleh masyarakat. Dalam pembahasannya, Gai menyebutkan adanya beberapa kawasan di Jawa Barat yang dirusak oleh perilaku masyarakat yang semena-mena. “Contohnya, Sungai Citumang, Pangandaran. Jika musim kemarau sungai ini memiliki pemandangan yang sangat indah seperti di surga, tapi saat hujan deras turun, menjadi kotor dengan sampah, kasur, kursi, lemari bekas,” tuturnya. Sesuai dengan misi Gubernur Jawa Barat, Jabar Juara yang akan membenahi objek wisata di Jawa Barat berstandar internasional, Gai menegaskan bahwa masyarakat pun perlu membantu pemerintah dalam memelihara alam ini. Dalam topik yang berjudul “Lingkungan Hidup Alami Menjadi Daya Tarik Pariwisata yang Berkelanjutan”, ia menjelaskan bahwa memelihara keberlanjutan (sustainability) harus dilihat sebagai tujuan target manusia dari keseimbangan ekosistem manusia (homeostasis).

Hal mengenai kerusakan alam juga dipaparkan oleh Zhao Ruhua, Hebei Normal University, dalam materi berjudul “Perlindungan Lingkungan di Amerika dalam Era Progresif”. Ia menjelaskan kondisi Amerika di abad ke-19 yang mengalami kerusakan alam cukup besar karena beberapa hal, yaitu penandatanganan Homestead Acts, pembakaran lahan untuk pemekaran, industrialisasi dan urbanisasi di wilayah Amerika Timur, dan evolusi lingkungan di Amerika oleh Henry David Thoreau, John Muir. “Namun, dari kondisi ini Amerika memiliki solusi yang baik untuk mengatasi kerusakan ini,” lanjutnya. Solusi yang dihasilkan adalah mendirikan dinas hutan untuk melindungi lingkungan, adanya kontribusi dari perempuan-perempuan Amerika dengan mendirikan organisasi perlindungan lingkungan, kontribusi wartawan yang secara langsung membahas masalah kondisi lingkungan hidup dan pelestariannya di Amerika, dan usaha lainnya. Belajar dari kasus Amerika ini, Ruhua berpesan, “Melalui penelitian ini, semoga bisa menjadi pelajaran bagi Tiongkok dan seluruh dunia bahwa kesalahan yang dilakukan di Amerika tidak boleh diulangi oleh kita dan kita bisa belajar dari solusi yang dihasilkan sehingga membuat Amerika menjadi negara yang kuat”.

Berkaitan dengan kondisi lingkungan hidup dalam ekowisata, Kepala Balai Pengelolaan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Lian Lubis, S.Si., M.T. juga berpendapat, “Praktik ekowisata harus memberikan manfaat yang maksimal terhadap pelestarian lingkungan (konservasi), memberdayakan ekonomi, memiliki konten pendidikan, dan menghormati kepercayaan masyarakat”. Hal ini dijelaskannya dalam pembahasan berjudul “Menyoal Ekowisata dalam Perlindungan Lingkungan”. Selain itu, narasumber dari PT Ekowisata Kreatif Indonesia, Friedman Carlyo Manalu, S.Tr.Par, M.Par., juga turut memaparkan materi “Pengembangan Industri Ekowisata dan Perlindungan Lingkungan”.

Di akhir  diskusi, Tri Octaviani Sihombing, S.T., M.Sc. sebagai moderator menyampaikan kesimpulan dari keseluruhan pembahasan. “Kita harus memperhatikan ekowisata; perlunya membangun ingatan emosional kepada seluruh pemangku kepentingan, terutama komunitas masyarakat lokal dalam mengembangkan ekowisata sehingga mendorong dan memotivasi kesadaran masyarakat akan adanya potensi yang tinggi; belajar dari inisiatif pihak di luar pemerintah negara maju akan tindakan pelestarian lingkungan; dan perlunya pendidikan dini mengenai pelestarian lingkungan dan ekowisata,” ucapnya menyimpulkan. (ns)

Baca juga: 4th Spirit of Bandung: Ekowisata dalam Bidang Pariwisata

Sikapi Ekowisata Jabar dengan Pembangunan Infrastruktur Kereta Cepat dalam Forum Diskusi Spirit of Bandung 2019

4th Spirit of Bandung Bahas Pengembangan Industri Ekowisata Indonesia-Tiongkok

Upload pada 13 November 2019