Pendidikan Awal Anak Melalui Perhatian Nyata

Perhatian adalah pendidikan awal yang diterima oleh seorang anak. Melalui perhatian, seorang anak belajar mengerti arti kasih sayang, cinta, dan banyak hal yang dia peroleh dimulai dari sebuah perhatian yang diberikan oleh orang tua. Namun, dapat disadari bahwa tidak semua anak memiliki keberuntungan memiliki orang tua, ada banyak anak yang tidak diinginkan kehadirannya karena faktor-faktor tertentu dari orang tua. Dengan uluran kasih dari orang yang menaruh perhatian terhadap anak-anak yang kurang beruntung ini, yayasan sosial hadir untuk menampung anak-anak yatim piatu. Bukan hanya untuk menampung, ada juga keluarga yang memberi seluruh waktu hidupnya untuk merawat anak-anak tersebut. Kita sudah banyak mendengar rumah yatim piatu yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan dunia sebagai suatu bentuk kepedulian dan perhatian bagi anak-anak yatim piatu.

Anak-anak tersebut masih mampu untuk mengenyam pendidikan yang layak seperti masyarakat pada umumnya, tetapi karena kehilangan tulang punggung atau permasalahan ekonomi, banyak yang tidak bisa merasakan bangku sekolah. Masyarakat yang masih dapat mengenyam pendidikan dengan baik selayaknyalah dapat membuka kesempatan bagi anak-anak tersebut. Melalui program dalam sebuah institusi pendidikan tinggi, kita dapat menyalurkan ilmu yang dimiliki walau hanya sebagian untuk membuka pandangan dan pemahaman bahwa anak yatim piatu memiliki kemampuan yang dapat diasah dan juga memberikan modal hidup bagi mereka di masa depan.

Mahasiswa dan dosen Program Studi S-1 Desain Interior Universitas Kristen Maranatha, salah satu contohnya, memahami keadaan ini dan berusaha semampu mungkin untuk memberi dukungan dan perhatian bagi anak-anak yatim piatu dan golongan menengah kebawah yang berada dekat dengan lingkungan mereka. Dibekali oleh kesadaran bahwa hidup sebangsa dan setanah air haruslah saling menopang dan menolong sekecil apapun bentuk yang dapat diberikan, maka diselenggarakan pengabdian masyarakat (abdimas) dengan kegiatan melatih soft skill dan meningkatkan kepedulian dari mahasiswa desain interior guna menambah wawasan dan mengasah kemampuan anak-anak panti asuhan dalam bidang seni.

Kegiatan yang dinamakan Pemetha (Pengabdian Masyarakat Desain Interior Maranatha) ini mengangkat tema kebudayaan Sunda, karena kampus Maranatha yang berada di tanah Jawa Barat ini memiliki suku asli Sunda. Selain itu, kegiatan abdimas ini masih dilaksanakan disekitar Bandung sebagai awal mula. Kegiatan ini juga untuk membangun kebersamaan antarangkatan mahasiswa maupun individu supaya tidak terjadi pengelompokkan, membentuk pribadi mahasiswa untuk lebih bersosialisasi dengan lingkungan baru, memupuk nilai kepedulian dan simpati kepada sesama, serta melatih cara bersosialisasi antarrekan dan orang lain, karena pada akhirnya pekerjaan dibidang desain akan memperluas pergaulan dan melakukan sosialisasi serta memahami kebutuhan seseorang.

Kegiatan yang mulai dilaksanakan pada Agustus 2017 ini merupakan bentuk program yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Desain Interior Maranatha (Rerum) dengan mengajak anak-anak panti asuhan untuk berkegiatan melalui menggambar, mewarnai, dan bermain bersama. Harapan melalui kegiatan ini, anak-anak tersebut mendapat perhatian yang dibutuhkan serta komunikasi antara mahasiswa yang sudah beranjak dewasa terhadap anak-anak juga terlatih untuk menyampaikan pendidikan melalui cara bicara serta bahasa yang baik dan mudah dimengerti. Selain itu, perhatian lain yang dilakukan adalah memberikan alat tulis dan sembako kepada pemilik yayasan panti asuhan.

Pengabdian masyarakat seperti ini tentu sudah banyak dilaksanakan oleh berbagai kelompok, komunitas, organisasi, institusi, lembaga, dan perkumpulan lainnya. Kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk aksi nyata memberi perhatian terhadap anak, terutama mereka yang tidak memiliki siapapun untuk mereka menggantungkan harapan. Siapa lagi yang menjadi bagian dari mereka jika bukan kita yang menyadarinya yang ingin melakukan sesuatu untuk anak-anak itu. Dengan melakukan aksi-aksi nyata, kita sudah membuka sebuah harapan baru bagi anak-anak tersebut untuk mencari dan menemukan tujuan hidupnya. (pm)