Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia karya penulis best seller Yuval Noah Harari menjadi topik bedah buku Maranatha Writers and Readers Club (MWRC), Jumat (26/7/2019) di Gedung B lantai 4, kampus Maranatha. Homo Deus: A Brief History of Tomorrow telah terjual lebih dari lima juta kopi dan telah diterjemahkan dalam 50 bahasa. Demikian paparan pembuka dari penyaji materi Isabella Isthipraya Andreas, M.Ds. “Buku ini membahas apa saja yang sudah dihadapi oleh manusia di masa lalu, masa kini, dan prediksi mengenai masa depan umat manusia,” ujar Isabella menggambarkan secara singkat.

Berbeda dengan suasana bedah buku yang biasanya formal, diskusi kali ini berjalan cukup ringan dan santai. Perbincangan mengalir di antara para peserta, mulai dari pertanyaan yang mempertanyakan apa hebatnya manusia, definisi kebahagiaan yang selama ini dicari-cari oleh manusia, paparan fakta mengenai bakteri, kemajuan bioteknologi terkini dan apa yang bisa dilakukan oleh mesin di masa depan, kontroversi manusia versus robot, hingga perihal ketuhanan dibicarakan dengan hangat. Dua jam pun berlalu hanya untuk mendiskusikan bagian pertama, dari total tiga bagian besar buku tersebut. Bedah buku perdana ini sekaligus menjadi ajang diskusi untuk merencanakan aktivitas-aktivitas selanjutnya dengan skala yang lebih luas dan bahasan yang lebih mendalam.

Sesi diskusi menggarisbawahi empat hal dari buku ini: masalah hidup dan kebahagiaan, manusia yang menjadi Tuhan, paradoks pengetahuan, dan algoritma manusia. Salah satu yang menjadi pergumulan adalah kekhawatiran manusia dengan pesatnya rekayasa teknologi dan rekayasa-rekayasa lainnya, dikhawatirkan membuat manusia menjadi bukan manusia lagi, dengan banyaknya elemen yang direkayasa. “Buku ini membuat kita berpikir kembali tentang apa itu manusia,” ucap Isabella. “Yuval menampilkan prediksi-prediksinya mengenai masa depan manusia, tanpa gaya memaksa. Menariknya, Yuval sendiri sepertinya juga masih bertanya-tanya, apakah prediksi-prediksi tersebut benar-benar akan terjadi,” lanjutnya.

Lebih jauh, Isabella menyatakan bahwa manusia harus sadar akan perkembangan dunia sekitar dan mau belajar dari yang lain. “Kita harus selalu mempertanyakan makna hidup dan perubahan zaman, supaya hidup dijalani dengan penuh kesadaran dan berkualitas. Kesadaran itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lain,” jelasnya.

Menutup diskusi, Isabella menyimpulkan, “Buku Homo Deus memang seru untuk dibaca, membuat kita merefleksikan kembali kemanusiaan kita, masa kini dan masa depan manusia, serta sejauh apa kita telah ‘menuhankan’ diri kita di tengah perubahan zaman ini. Perjalanan memaknai hidup dan kemanusiaan tidak pernah berakhir, dan selalu ada misteri di dalamnya.” Hal ini diamini Pendeta Hariman Pattianakotta⁩ yang juga hadir dalam sesi diskusi. “Iman itu tidak pernah amin,” ucapnya. (ins)

Upload pada 27 July 2019