Pada tanggal 31 Mei 2017, telah diadakan Program Pengembangan Eksekutif dengan tema “Learning in the Digital World: The Promise of Better Education for All”. Pembicara utama dalam program Pengembangan Eksekutif kali ini adalah Malcolm Woodfield. Beliau adalah Global Vice President dan Industry Head dari SAP. SAP telah lama berdiri sebagai sebuah korporasi multinasional di bidang software digital untuk menangani kebutuhan teknologi informasi di berbagai perusahaan dan lembaga pendidikan.

Malcolm Woodfield mengutarakan bahwa digitalisasi menjadi penting karena pertumbuhannya yang sangat cepat dan pesat di berbagai sektor kehidupan terutama dengan tumbuhnya generasi millenial. Tumbuhnya generasi millenial yang akrab dengan dunia digital menjadi indikasi yang semestinya patut diperhatikan secara khusus di dalam proses belajar mengajar di pendidikan tinggi atau universitas. Pengalaman Malcolm selama 20 tahun berkarya di SAP menunjukkan digitalisasi mempengaruhi pula gaya hidup dan cara pandang generasi millenial. Ia menunjukkan bahwa penggunaan dekstop, laptop telah dilengkapi dengan mobile device melalui perangkat smartphone yang makin komplit dan praktis. Perangkat semacam ini menjadi acuan baru untuk melihat informasi di dalam genggaman tangan, dan bisa diakses di manapun. Pendidikan tinggi atau universitas semestinya mampu menangkap peluang ini menjadi bagian dari strategi pendidikan bukan hanya dalam bentuk e-learning, tetapi juga dalam hal pengalaman sosial dan personal (social and personal experience).

Malcolm Woodfield menunjukkan ada tiga indikasi yang seharusnya mempengaruhi perubahan perspektif di dalam sistem pendidikan: pertama, kebutuhan online learning yang mudah diakses dan diberikan kepada siapapun. Kedua, lapangan pekerjaan yang tidak lagi dihitung berdasarkan loyalitas pola generasi sebelumnya, melainkan pola millenial yang tidak loyal pada satu perusahaan dengan memilih lebih dari satu atau membetuk perusahaan (freelancer and entrepreneur), contoh dari ini adalah tumbuhnya perusahaan transportasi yang berbasis digital. Ketiga, tumbuhnya kelas menengah yang cukup memperhatikan pendidikan tinggi sebagai sesuatu yang harus diraih, seperti pertumbuhan mahasiswa China yang bukan hanya kuliah di dalam negeri tetapi memiliki tekad untuk kuliah di berbagai negara.

Pengalaman dan analisa Malcolm Woodfield mengenai digitalisasi di dalam proses pendidikan menjadi tantangan bagi universitas untuk mengevaluasi kembali dan merancang kembali (reevaluate and reimagine) apa yang dapat dilakukan bagi generasi millenial. Teknologi informasi hanyalah jembatan, tetapi cara dan strategi untuk menangkap kebutuhan ini semestinya menjadi lahan pembelajaran baru bagi universitas di masa mendatang. (abe)

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 2 June 2017