Pameran fotografi bertemakan Chinese Culture digelar oleh Center of Chinese Diaspora Studies (CCDS) Universitas Kristen Maranatha berkolaborasi dengan Lighthouse Photo Institute, 4-8 Maret 2019 di Exhibition Hall Gedung B Universitas Kristen Maranatha. Pameran yang juga didukung oleh Yayasan Dana Sosial Priangan (YDSP) dan artspace.id ini menampilkan dua tajuk utama, yaitu: “Chinese Culture Heritage Trail in Bandung” dan “Home 9+1”. Keduanya menampilkan topik mengenai budaya diaspora Tionghoa di Indonesia dengan pendekatan yang berbeda.

Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Irena Vanessa Gunawan, S.T., M.Com., dalam pembukaan pameran pada hari Senin, 4 Maret 2019 mengatakan bahwa foto-foto yang dipamerkan oleh Lighthouse Photo Institute dalam “Home 9+1” mempresentasikan ruang pribadi atau private space sepuluh fotografer tentang akar budaya Tionghoa di dalam kehidupan mereka sehari-hari melalui karya-karya fotografi kontemporer, sedangkan CCDS merepresentasikan kajian kekayaan kebudayaan Nusantara dengan budaya Tionghoa dalam berbagai wujud kebudayaan berupa kepercayaan, sistem nilai, norma, maupun artefak budaya.

Pameran foto “Chinese Culture Heritage Trail in Bandung” merupakan hasil dokumentasi dari rangkaian kegiatan yang sebelumnya telah diadakan pada tanggal 2-3 Februari 2019 lalu, berupa aktivitas heritage trail dan workshop. Kepala CCDS Maranatha, Dr. Krismanto Kusbiantoro, S.T., M.T. mengungkapkan bahwa kegiatan Heritage Trail ini bukan kali pertama diadakan.  “Sebelumnya juga pernah diadakan pameran dengan media poster dan telah dibukukan pada tahun 2018. Namun kali ini kita ingin melihat dari sisi lain, melihat keberadaan heritage itu di tengah keragaman yang begitu banyak. Makanya kita menggunakan media fotografi dan kita tampilkan bersama dengan pameran yang digagas Lighthouse Photo Institute,” ungkap Krismanto.

Dalam Heritage Trail 2019 ini para peserta tidak hanya menyusuri, mencermati, dan mendokumentasi jejak-jejak historis budaya Tionghoa, tetapi juga mencerna dan memperkaya diri mengenai sejarah di balik artefak-artefak bernuasa Tionghoa dalam keseharian masyarakat kota Bandung. Sebelas fotografer, yang sebagian besar ternyata bukan merupakan fotografer profesional,  telah merekam subjek-subjek budaya melalui kacamata dan cara pandang mereka masing-masing.

“Foto adalah medianya, tapi gagasan di balik itu adalah kesadaran bahwa Chinese culture itu ada di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang menunjukan pluralitas yang kental. Perpaduan budaya itu yang sehari-hari kita lihat, tapi kita mungkin tidak sadar bahwa ternyata kita sangat majemuk.” jelas Krismanto. Rencananya Heritage Trail ini akan dikembangkan hingga ke kota Cirebon sebagai kota pelabuhan yang memiliki kekayaan budaya yang lebih banyak lagi.

Tampil dalam ruang pameran yang sama, adalah pameran fotografi kontemporer “Home 9+1”; merupakan kelanjutan dari pameran sebelumnya yang telah diadakan di Solo dan Salatiga. Shamow’el Rama Surya, fotografer dan inisiator proyek fotografi Home mengatakan, “Pameran ini diadakan karena munculnya berbagai isu sentimen rasial di Indonesia. Sentimen yang menjadi alat politisasi selama masa kampanye itu pada kenyataannya ternyata tidak mewakili opini masyarakat pada umumnya.” katanya.

Sembilan rekan  fotografer, yaitu Aris Liem, Mohammad Reza Gemi Omandi, Ully Zoelkarnain, Edial Rusli, Mitu M. Prie, Muhammad Aslam, Edward Nugroho, Ichwan Susanto, dan Seno Resta bersama dengan Shamow’el Rama Surya dipacu untuk melihat dan menampilkan hasil jepretan hal-hal sehari-hari yang ada di rumah masing-masing. “Melalui dokumentasi fotografi ini kita ingin menunjukkan bahwa asimilasi atau peleburan budaya memang sudah terjadi di dalam kehidupan kita. Tujuan kita adalah membawa pesan bahwa dalam keberagaman budaya perlu ada rasa saling mengerti sebagai satu bangsa, bangsa Indonesia,” ungkap Shamow’el.

Pameran pertama yang telah diselenggarakan di Solo, diadakan bersamaan dengan pembukaan Asian Games 2018. “Kita ingin mendapatkan esensi dari Energy of Asia yang menjadi moto dari peristiwa akbar itu yang tetap kita bawa hingga pameran kedua kita di Salatiga pada tanggal 28 September 2018 hingga pameran hari ini,” tutur Shamow’el.

Dalam pameran ketiga ini selain jumlah foto yang meningkat, proyek “Home 9+1” kali ini juga menampilkan lima photobook  yang merupakan kumpulan karya foto dari tiga fotografer. “Jadi ini bukanlah one-man-show saja, semua bisa melakukan selama ada kemauan untuk mengerjakannya.” tutup Shamow’el. (sg/ins)

Upload pada 6 March 2019