Sebagai bentuk kepedulian terhadap cagar budaya di Kota Bandung, tim gabungan dosen dan mahasiswa Universitas Kristen Maranatha berkolaborasi untuk membantu rekonstruksi Vihara Satya Budhi, Bandung. Hasil kolaborasi kemudian dipamerkan dalam kegiatan Virtual Exhibition dengan menggunakan teknologi Virtual Reality (VR) dengan judul “Menolak Sirna”. Pameran virtual ini diselenggarakan pada tanggal 1-2 Desember 2020 melalui media Artsteps.

Pameran tersebut juga merupakan hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (PKM) tim Maranatha yang dilakukan melalui hibah pengabdian kepada masyarakat dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristek BRIN dengan judul “Implementasi Drone 3D Mapping untuk Rekonstruksi dan Mitigasi Bangunan Cagar Budaya Pasca Bencana Vihara Satya Budhi Bandung”.

Virtual Exhibition “Menolak Sirna” diisi dengan berbagai hal, meliputi pengenalan sejarah wihara, pelaku sejarah, kumpulan foto dan video, proses pengujian nondestruktif material kayu, digital photogrammetry untuk selanjutnya diolah menjadi 3D modelling, dan referensi kondisi bangunan yang ada.

Tim gabungan yang mengerjakan proyek ini adalah dosen pengabdi yang terdiri atas Cindrawaty Lesmana, Ph.D.; Dr. Krismanto Kusbiantoro, S.T., M.T.; Dr. Erwani Merry Sartika, S.T., M.T. Sementara itu, tim mahasiswa pendukung terdiri atas Dimitri Jeremy, Patrick Fellipe Army, Nathaniel Pius, Vincent Utama, Andrew Peterson, Michael Taniono, Joshua Libertus, Dave Vian, Muhammad Nurfian, Latifah Nur Azizah, dan Cintiya Dewanti.

Salah satu tim pengabdi, Erwani Merry menjelaskan mengenai makna judul pameran. “’Menolak Sirna’ merupakan harapan dari tim Maranatha untuk menolak ke-‘sirna’-an atau hilangnya dari cagar budaya,” tuturnya.

Erwani mengatakan, proses rekonstruksi Vihara Satya Budhi menjadi hal yang penting agar nilai budaya yang ada pada bangunan tersebut tidak sampai sirna/lenyap. “Proses dimulai dari pengumpulan informasi untuk selanjutnya diolah menjadi database artefak budaya sebagai acuan rekomendasi untuk rekonstruksi dan monitoring rehabilitasi wihara untuk dapat tetap mempertahankan kearifan lokalnya,” jelasnya.

Proses pengolahan datanya mengadopsi hasil penelitian gabungan Fakultas Teknik UK Maranatha, yaitu dengan memanfaatkan teknologi drone untuk digital photogrammetry yang selanjutnya diolah menjadi 3D Model dari bangunan, serta hasil penelitian gabungan antara Fakultas Seni Rupa dan Desain dan Fakultas Teknik UK Maranatha mengenai nilai dan mitigasi bencana pada bangunan publik.

Pengolahan, pengumpulan data, dan pendampingan yang dilakukan diharapkan dapat membantu tenaga ahli dan pemerhati budaya untuk lebih memahami kondisi bangunan, serta bersama-sama melakukan pemeliharaan untuk mempertahankan kearifan lokal dari budaya yang ada.

Hal ini juga digunakan sebagai kegiatan sosialisasi kepada masyarakat lokal maupun internasional untuk mengenal dan bersama-sama menjaga artefak budaya yang sangat berharga, dan meningkatkan kesadaran akan perlunya upaya mitigasi secara lebih komprehensif untuk pemeliharaan cagar budaya.

Virtual exhibition “Menolak Sirna” dapat diakses melalui link berikut ini. [Klik di sini] (gn)

 

Foto: dok. Tim PKM “Menolak Sirna”

Upload pada 16 December 2020