Pemutaran dan diskusi film berjudul A Silent Voice telah diselenggarakan oleh Perpustakaan Universitas Kristen Maranatha. Film produksi Kyoto Animation, Jepang ini merupakan film yang diangkat dari manga karya Yoshitoki Oima, Koe No Katachi.  Pada hari Kamis, 10 Oktober 2019 bertempat di Ruang Teater, Gedung Administrasi Pusat (GAP) lantai 8, dihadiri 216 orang dari seluruh civitas academica UK Maranatha. Selain itu, dosen Fakultas Psikologi, Dr. Jacqueline Mariae Tjandraningtyas, M.Si., Psikolog turut diundang sebagai pembicara dalam diskusi.

Kepala Perpustakaan, Heriyanto, S.S., M.I.Kom. menjelaskan memilih film ini karena bukan hanya karena menarik untuk didiskusikan, tetapi juga memiliki makna yang kuat sehingga para penonton bisa belajar sesuatu lewat film tersebut. Heriyanto mengucapkan harapan diselenggarakannya acara ini adalah agar Perpustakaan dapat lebih mendekatkan diri kepada civitas academica dan mengembangkan kemampuan, khususnya mahasiswa dalam berdiskusi. “Perpustakaan ada untuk melayani kebutuhan civitas academica, baik dalam hal akademik maupun kebutuhan rekreatif-edukatif,” ujarnya.

Film A Silent Voice merupakan film anime yang menceritakan seorang gadis tunarungu, Shouko Nishimiya gadis pindahan di bangku sekolah dasar. Dikarenakan keterbatasan Nishimiya yang tidak bisa mendengar, ia sering diejek oleh teman-teman sekelasnya, salah satunya Shouya Ishida. Sedangkan, Ishida merupakan teman sekelas yang paling sering mengejek Nishimiya. Karena perbuatan bullying yang dialaminya, Nishimiya memutuskan untuk keluar dari sekolah. Sejak saat itu, Ishida menjadi korban bully oleh teman-temannya.

Dalam sesi diskusi, Dr. Jacqueline menerangkan film ini menceritakan kehidupan yang realistis, seperti bullying, keinginan bunuh diri, pengaruh keluarga dan teman, bystander, dan sebagainya. Beliau juga menerangkan karakter yang dimiliki oleh para pemain utama, yaitu Ishida dan Nishimiya. Ishida yang awalnya pem-bully, namun mengalami “pengasingan sosial” mengakibatkan perubahan dan perkembangan pada dirinya. Pada akhir sesi diskusi, para penonton juga diberi kesempatan untuk bertanya.

Melalui film ini, Dr. Jacqueline menyimpulkan beberapa pesan moral, yaitu setiap manusia yang normal, memiliki cacat fisik atau pun mental, pada hakikatnya adalah manusia sehingga jangan pernah kita mem-bully sesama, dan sebagainya. Selain itu, beliau juga menyarankan agar kita mencintai kehidupan yang kita miliki. “Falling in love bukan hanya terhadap pacar, tetapi bisa dengan keluarga, teman, sahabat,” ucapnya. (ns)

Upload pada 14 October 2019