Kegiatan diskusi bertema “Filsafat, Budaya, dan Seni untuk Cinta: Dunia Penuh Cinta Pasca Pandemi” yang diselenggarakan oleh Program Sarjana Seni Rupa Murni Universitas Kristen Maranatha sejak 9 Januari 2021 telah mencapai puncak akhir kegiatan. Diskusi diadakan sebanyak 12 sesi, setiap Sabtu melalui platform Zoom.

Baca juga: Series Diskusi Daring Bulan Januari Seni Rupa Murni Maranatha: Cinta dari Segi Budaya, Seni, Filsafat, dan Psikologi

Sesi sembilan dilaksanakan pada 6 Maret 2021, dengan judul “Cinta dalam Demonologi”, dibawakan oleh Drs. Fabianus Sebastian Heatubun, Pr., SLL., dosen Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan. Ia membahas mengenai arti demon, dan hubungan cinta dengan konsep demonologi. Demon merupakan sesuatu yang nyata, baik secara histori, kultural, maupun sastrawi. Demonologi memiliki eksistensi dalam lingkup belief (kepercayaan). Meskipun bersifat tidak rasional, hal ini merupakan sesuatu yang bisa dipercayai keberadaannya. Pada kenyataannya, konsep demonologi bertentangan dengan ilmu sains karena bersifat takhayul.  Demon dapat diartikan sebagai eros, yaitu cinta yang bersifat suci dan sakral. Dalam penyampaian materinya, Fabianus menjelaskan mengenai beberapa gambaran dan kisah cinta dalam demonologi, salah satunya yaitu kisah cinta Smaradhana.

Sesi pada minggu kedua dibawakan oleh Dr. Krismanto Kusbiantoro, S.T., M.T., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Inovasi, dan Kemitraan UK Maranatha, dengan judul “Heideggerian Love: Perspektif Fenomenologi Eksistensial tentang Cinta”. Ilmu fenomenologi mengajarkan tentang pengalaman prareflektif (pengalaman spontan). Aktivitas mencintai sering digambarkan dengan kata “jatuh cinta”. Dalam mitologi Yunani, jatuh cinta lahir dari kisah dewa Eros. Dewa Eros dilambangkan dengan sosok seseorang yang memegang busur dan anak panah. Setiap orang yang tertembak anak panahnya akan dipenuhi dengan cinta. Menurut Krismanto, kasih Eros mampu memberikan pengalaman cinta bagi manusia, serta menguasai seseorang yang mengalaminya dan manusia tidak dapat memilih dalam jatuh cinta. “Karena manusia jatuh cinta, dia utuh menjadi manusia,” tuturnya.

Baca juga: Mengenal Cinta Melalui Sudut Pandang Bible, Sastra, Kebangsaan, dan Ilmu Sains

Sesi diskusi ke-10 dilaksanakan pada 20 Maret 2021, dengan judul “Abang Kaya Abang disayang, Abang Kere Abang ditendang: Pragmatisme Cinta”. Sesi ini dibawakan oleh Antonius Budi Wibowo, S.S., M.Hum., M.A., staff Bidang Marketing dan Admisi UK Maranatha. Ia menunjukkan beberapa contoh film yang berkaitan dengan cinta, salah satunya Si Doel Anak Sekolahan. Film ini menceritakan tiga tokoh yang mengalami cinta segitiga, yaitu Doel, Zaenab, dan Sarah. Film tersebut mengajarkan mengenai cinta berdasarkan materialisme. Selain itu, Antonius menjelaskan mengenai pengaruh media komunikasi dan hiburan bagi masyarakat. Media komunikasi seperti TV yang menyuguhkan berbagai film dan pertunjukan, sangat berpengaruh pada emosi orang yang mengonsumsinya.

Sesi diskusi terakhir dibawakan oleh dosen Fakultas Ekonomi UK Maranatha, Sunjoyo, S.E., M.Si., dengan judul “Memimpin dengan Cinta: Cinta dalam Perspektif Leadership”. Cinta merupakan suatu tindakan aktif yang dilakukan dengan kesadaran penuh. Menurut Sunjoyo, kepemimpinan tidak didasari oleh jabatan, tingkat pendidikan, status sosial, maupun status ekonomi, tetapi didasari oleh pengaruh. Untuk memimpin sesuatu, diperlukan tindakan cinta dalam bentuk caring (kepedulian). Tanpa rasa kepedulian, seseorang akan mengalami kegagalan dalam kepemimpinannya. “Pada akhirnya cinta akan berakhir di dalam hubungan antara kita dengan sesama, dengan orang-orang yang kita pimpin, dengan rekan kerja kita, dengan atasan kita, bahkan kita dengan Sang Khalik,” tuturnya.

Dr. Ismet Zainal Effendi, S.Sn., M.Sn., selaku Ketua Pelaksana Kegiatan, menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan ini memberikan ruang bagi para peserta untuk dapat bertukar pikiran. Selain itu, para peserta dan masyarakat diperkenalkan dengan konsep cinta secara menyeluruh. “Diskusi ini memberikan ruang terbuka untuk bertukar pikiran dan opini dari berbagai sudut pandang, dikaitkan dengan fenomena realitas sosial dan spiritual sehingga membangkitkan kesadaran akan pentingnya makna cinta dalam kehidupan,” jelasnya. (ra/gn)

 

Foto : dok. Program Sarjana Seni Rupa Murni Maranatha via Zoom

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 5 April 2021