Bali memiliki banyak pesona. Hal ini tentunya menarik bagi wisatawan lokal ataupun asing yang berwisata ke Pulau Bali. Namun, selain objek wisata yang dapat dilihat melalui peta, ada tempat tersembunyi yang jarang dijelajahi para wisatawan. Oleh karena itu, Program Sarjana Desain Interior dan Program Sarjana Arsitektur Universitas Kristen Maranatha bersama menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “The Hidden Bali: A Map That Tells Balinese Spatial Intangible Heritage” pada tanggal 5 Juni 2020. Materi ini dibawakan oleh Dr. Dicky A. S. Soeria Atmadja, Principal Cartographer CRS Institut Teknologi Bandung (ITB). Dicky bersama tim telah mendesain peta wisata Bali yang lain dari pada yang lain.

Dalam kuliah umum ini para peserta diajak untuk bersama-sama melihat peta wisata Bali yang dipakai untuk memahami budaya Bali, khususnya aspek ruang. Hal yang menjadi latar belakang pembuatan peta ini adalah pergeseran pariwisata yang terjadi di Bali dan masukkan dari Dinas Pariwisata Provinsi Bali.

Melalui proyek riset yang ia buat sejak lima tahun yang lalu, Dicky mengembangkan peta dengan pendekatan budaya Bali. Pendekatan yang dimaksud adalah warisan budaya Bali yang sifatnya ruang. Misalnya layout ruang, cara mengukur dengan menggunakan tubuh manusia, orientasi, dan sebagainya. “Hal-hal inilah, spatial intangible heritage Bali yang akan kita gunakan pada saat mendesain peta wisata budaya Bali,” ungkapnya.

Menurut Dicky, peta pada umumnya mengikuti gaya Eropa yang menentukan arah dari arah mata angin. Namun, masyarakat lokal secara tradisional sudah mengenal dan memiliki sistem dalam membuat peta. Sejak dahulu masyarakat Bali juga sudah memiliki orientasi dalam menentukan arah. Mereka tidak menggunakan arah angin sebagai patokan arah, tetapi menggunakan gunung, laut, angin, dan matahari. Arah ini juga menentukan baik atau buruknya suatu ruang. Masyarakat Bali mengenal konsep pembagian ruang yang disebut Sanga Mandala. “Konsep ini yang digunakan masyarakat Bali untuk letak bangunan atau ruang dalam rumah mereka,” ucap Dicky.

Layout rumah tradisional Bali ini kemudian digambarkan secara skematis oleh Dicky dan kemudian ditransformasikan menjadi layout peta. Posisi judul peta serta map face juga dibuat berdasarkan layout rumah Bali. Berbagai feature atau fenomena, baik fisik maupun nonfisik pada peta digambarkan dengan simbol. “Karena kita akan membuat peta wisata yang menyajikan fenomena destinasi wisata yang sudah dikelompokan menjadi sepuluh macam destinasi, maka kita perlu mendesain simbol dari masing-masing kelompok destinasi tersebut. Simbol itu didesain berdasarkan produk-produk budaya Bali, seperti pura, candi, istana, desa adat, dan museum,” tambah Dicky.

Dicky juga menyebutkan, ada warna-warna tertentu yang memiliki makna yang juga diterapkan pada simbol-simbol destinasi wisata sesuai dengan budaya Bali dan kemudian disajikan pada peta. Hal ini juga disesuaikan dengan golongan destinasi wisata yang akan dibuat. Desain label pada peta ini juga menggunakan huruf dan angka tradisional Bali.

Dalam kesempatan ini Dicky menjelaskan mengapa peta ini disebut “The Hidden Bali”. “Karena peta yang akan dihasilkan nanti itu setidaknya punya dua hal tersembunyi yang bisa dipelajari oleh pembaca peta dalam hal mengenal budaya dan pariwisata Bali. Pertama adalah konsep ruang, warna, dan lain-lain. Kedua adalah destinasi yang ada dalam peta tersebut itu adalah destinasi yang tersembunyi karena bukan destinasi yang umum dikenal masyarakat,” jelasnya.

“Dengan keberadaan peta ini tentunya dapat memancing orang untuk mengenal budaya Bali. Turis tidak hanya tahu tujuan wisata, tetapi juga didorong untuk mengetahui bagaimana masyarakat Bali menilai ruang. Hal ini menjadikan banyak hal yang tidak biasa menjadi daya tarik,” tutup Dicky. (gn)

Upload pada 9 June 2020