Menelusuri Jejak Budaya Tionghoa di Bandung

Pusat Studi Tionghoa Diaspora (CCDS) dan Pusat Bahasa Mandarin (PBM) Universitas Kristen Maranatha pada hari Rabu dan Kamis, 14 dan 15 Juni 2017 melaksanakan kegiatan studi lapangan menelusuri jejak -jejak budaya Tionghoa yang tersisa di Kota Bandung. Dengan dipandu tiga orang narasumber yaitu: Dr. Sugiri Kustedja (penulis buku: Klenteng Xie Tian Gong & 3 Liutenant Tionghoa di Bandung), Bapak Ardian Changianto (pemerhati budaya Tionghoa) dan Mr. Yan Hao Ran (Direktur PBM Univeritas Kristen Maranatha), perjalanan ini diikuti oleh 39 orang yang terdiri dari: dosen-dosen Universitas Kristen Maranatha, para pemerhati budaya, jurnalis, staff dinas pariwisata Kota Bandung, seniman, pemandu wisata, dosen, guru, fotografer dan mahasiswa.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengunjungi, mendokumentasikan, dan mensosialisasikan peninggalan budaya Tionghoa Peranakan yang masih tersisa di kota Bandung sebagai warisan budaya yang tidak terpisahkan dari sejarah kota Bandung.

Perjalanan dimulai dari Kuburan Cikadut dengan mengunjungi makam Liutenant Tionghoa ke-3 di Bandung yaitu Tan Joen Liong, seorang ahli bangunan ternama dan menantu Liutenant ke-2 di Bandung yaitu Bong Soeij Tjoe, makam seorang saudagar Tionghoa yang membangun industri tekstil pertama di Bandung yaitu Jo Giok Si dan makam perintis dan pendiri Yayasan Dana Sosial Priangan yaitu Lie Siong Sen. Dari makam, rombongan melihat sisa-sisa peninggalan tokoh-tokoh tersebut yaitu kawasan industrii tekstil Jo Giok Si di Bandung Timur,
jalan Joen Liong (jln Baranang Siang sekarang), eks rumah kediaman Tan Joen Liong di Jln. Jend. Sudirman.


Rombongan kemudian menelusuri jejak budaya Tionghoa yang masih tersisa berupa budaya obat Tionghoa di Jalan Raya Barat (Jln. Jend Sudirman sekarang) di Toko Obat Pandu dan Toko Obat Cap Dua Langit. Juga penjual jamu Babah Kuya di belakang Pasar Baru sebagai sebuah bentuk hibriditas budaya Peranakan yang sudah bersatu dengan budaya lokal Nusantara. Perjalanan ini sekaligus mengunjungi beberapa kantong -kantong perumahan tua yang ada di beberapa gang di sekitar Jln. Astana Anyar dan Jend. Sudirman.

Selain makam dan hunian, terekam juga beberapa jejak eks sekolah Tionghoa yang sudah dialih fungsikan dan juga dialihkan kepemilikannya. Eks Sekolah Rong Hua dan Jiao Chung (sekarang menjadi RS Sentosa) di Jln Kebon jati dan juga eks Sekolah Guo Min Tang di Jln Cibadak. Bangunan peribadatan juga tidak terlewatkan untuk dikunjungi dalam studi lapangan ini, yaitu beberapa Klenteng dan Vihara di Jln Cibadak dan juga Klenteng besar Xie Tian Gong di Jln. Kelenteng. Dr. Sugiri Kustedja dan Bpk. Ardian Changianto memberikan kuliah
singkat tentang falsafah yang mendasari perwujudan rumah-rumah ibadat yang dikunjungi. Rombonganpun sempat mengunjungi rumah karuhun, rumah abu dan museum etnis Tionghoa Indonesia di Yayasan Dana Sosial Priangan.

Tidak lupa, perjalanan menelusuri jejak budaya Tionghoa di kota Bandung ini mencatat peninggalan budaya kuliner khas Tionghoa yang menarik; diantaranya: Bapao Min Yen, Toko Kopi Tjia Lie Hong, Pabrik Tahu Telaga (Yun Sen) dan Warung Kopi Purnama (Jln. Alketeri). Memang masih banyak sekali jejak peninggalan budaya Tionghoa di Bandung yang belum terkunjungi dalam perjalanan kali ini. Namun perjalanan ini membuat mata para peserta terbuka bahwa eksistensi etnis Tionghoa punya kontribusi yang tidak bisa diabaikan dalam perkembangan dan sejarah kota Bandung. (berita oleh Dr. Krismanto Kusbiantoro – Pusat Studi Tionghoa Diaspora Universitas Kristen Maranatha)