Cinta bukan suatu hubungan romantis antara pria dan wanita saja. Ada bentuk-bentuk lain yang terkadang tidak disadari oleh kita, dimulai dari mencintai diri sendiri. Untuk mengedukasi masyarakat, khususnya generasi muda mengenai topik ini, Psychology Club (PsyClub), Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Could It Be Love” pada Sabtu, 2 November 2019 di Exhibition Hall, Gedung B lantai 1. Seminar ini tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa Fakultas Psikologi Maranatha, tetapi juga dari berbagai perguruan tinggi di Bandung dan sekitarnya.

Dosen, praktisi, dan pendiri “Cinta Setara”, Sri Juwita Kusumawardhani, M.Psi., Psikolog, membuka materinya dengan pertanyaan, “Sudahkah kamu mencintai diri sendiri?”. Menurut wanita yang akrab disapa Wita ini, setiap orang harus mulai untuk mencintai diri sebelum mencintai orang lain, supaya tidak terjebak di dalam hubungan yang salah.

Ia menjelaskan bahwa mencintai diri sendiri maksudnya adalah menerima diri dan segala paketan yang ada, yaitu hal-hal yang baik dan juga yang buruk. Artinya dibutuhkan sebuah perubahan dari dalam diri. “Salah apabila berpikir mencintai diri sendiri berarti tidak bisa melihat kekurangan diri. Itu adalah missleading perception. Jadi yang terpenting adalah menerima keseluruhan diri kita, baik yang di dalam maupun yang di luar,” kata Wita.

Menurut Wita dari pengalamannya, Indonesia tidak memiliki budaya untuk membangun potensi atau kualitas diri yang positif dengan baik, karena ada kekhawatiran akan mengembangkan pribadi-pribadi yang sombong. Oleh karena itu, kita menjadi lebih terbiasa mencari kekurangan diri sendiri dibanding kelebihan kita.

“Padahal, mengenali kedua hal ini sangat dibutuhkan ketika kita akan melakukan wawancara kerja atau beasiswa. Oleh karena itu, pentingnya self love dimulai dari mengenali dan mengetahui potensi kita, menjadi pembeda antara kita dengan ratusan pencari kerja. Kalau kita tidak tahu keunikan kita, kita tidak akan mendapatkan pekerjaan yang diharapkan,” ucap Wita di dalam seminarnya berjudul “Loving Self”.

Setelah materi “Loving Self”, acara kemudian dilanjutkan dengan seminar “Loving Others” yang disampaikan oleh dosen Fakultas Psikologi Maranatha, praktisi, dan penyiar radio psikolog, Efnie Indrianie, M.Psi., Psikolog. Setelah makan siang, seminar berjalan kembali dengan pemaparan oleh Drs. Paulus H. Prasetya, M.Si., Psikolog selaku dosen Fakultas Psikologi Maranatha dengan materi berjudul “Loving Without Borders”. Seminar ditutup dengan talk show bersama Nadhifa Allya Tsana, penulis buku Kata dan pemilik akun instagram “Rintik Sedu”. Seluruh pembicara didampingi oleh moderator yang juga dosen di FP Maranatha, Dr. Jacqueline Mariae Tjandraningtyas, M.Si., Psikolog.

Meta Dwijayanthy, M.Psi., Psikolog selaku Staf Kemahasiswaan Fakultas Psikologi menyebutkan bahwa cinta memang memiliki arti yang luas, tidak dapat dibatasi oleh uang, waktu, atau subjek tertentu. Ia berharap melalui seminar ini para peserta bisa belajar bagaimana mendefinisikan cinta sebagai sesuatu yang abstrak menjadi sesuatu yang lebih konkret dan bisa dirasakan satu dengan yang lainnya. “Ingat, cinta tidak boleh hanya berhenti di sesuatu yang telah kita pelajari atau kognitif, tetapi juga harus berlanjut kepada psikomotor atau sesuatu sesuatu hal yang ditunjukkan dan ditampilkan, supaya cinta juga bisa dirasakan oleh orang-orang sekitar kita,” pesan Meta menutup sambutannya. (sg)

Upload pada 5 November 2019