Unit Kegiatan Mahasiswa Pasukan Komik Maranatha (PAKOMAR) yang dinaungi oleh Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) kembali menyelenggarakan pameran dan ilustrasi komik “Comination 2.0Historically and Futuristic”. Pada acara yang berlangsung tanggal 12-13 Desember 2019, selain menampilkan beberapa komik karya mahasiswa dalam pameran, berbagai rangkaian acara juga diselenggarakan di Exhibition Hall, Gedung B lantai 1, antara lain seminar, talk show, workshop, dan sharing session.

Ketua Acara, Tania Huang, mahasiswi FSRD Maranatha angkatan 2017 menjelaskan, tema yang dipilih merupakan bentuk dari eksistensi PAKOMAR yang berasal dari sejarah-sejarah zaman dahulu dan eksistensi untuk masa mendatang. “Acara ini diharapkan tidak hanya dinikmati pengunjung saja, tetapi juga dapat menambah wawasan mereka dengan berbagai rangkaian acara yang ada,” tutur Tania.

Ilmu baru juga turut disampaikan oleh Imansyah Lubis selaku Production Manager Bumilangit Studios dalam seminar yang berjudul “Dari Komik Menembus Film”. Dalam bahasannya, Iman menerangkan komik bukan hanya sebuah cerita bergambar saja, tetapi cerita komik tersebut bisa diterapkan menjadi sebuah film. “Film mempunyai kekuatan untuk menyebarkan informasi,” ujar Iman. Seperti Gundala, salah satu komik Indonesia yang berhasil diimplementasikan menjadi sebuah film. Iman juga membagikan pengalamannya yang dilalui bersama sutradara, Joko Anwar dan timnya dalam merancang film tersebut.

Iman menerangkan bahwa memang tidak mudah mengubah cerita komik menjadi sebuah film. Berbagai tantangan yang harus dihadapi, antara lain memilih alur cerita Gundala dari banyak seri yang pantas untuk dijadikan sebuah film, menentukan karakter yang cocok dengan tokoh komik, dan tantangan lainnya. “Maka dari itu, mewujudkan sebuah cerita menjadi film tidak hanya berawal dari passion saja, tetapi harus memiliki persistence melewati tantangan yang ada,” tuturnya. Selain itu, Iman juga berpesan kepada peserta, “Jika kalian ingin berkarya, kalian harus menentukan pangsa pasar karyamu, media utama, memilih rekan yang bisa bekerja sama, dan lain sebagainya”.

Berbagai pembahasan lainnya pun dibahas dalam seminar, meliputi “Membangun Narasi Kompleks untuk Komik” dibawakan oleh Galang Tirtakusuma serta “Nge-Branding Lewat Komik” disampaikan oleh Dike Akbar dan Feiruz Rizani. Sedangkan workshop yang bekerja sama dengan Rubbercube dan Datascrip Creative Tablet, Didan Bay dan Prima R. Bardin mengajarkan peserta mengenai “Kebiasaan Mensketsa untuk Komikus dan Ilustrator” dan “Ideasi untuk Desain Karakter”. Pada workshop ini juga, peserta diberi kesempatan menggunakan Wacom Tablet secara gratis untuk mendesain karakter komik. Tidak hanya itu, “Bincang Komikus: Trending tahun 2020” juga dipaparkan oleh Sweta Kartika dan Feiruz Rizani dalam bentuk talk show.

Acara “Comination 2.0” melibatkan berbagai komunitas komik di Kota Bandung, seperti FUNCO Comic Community, Genshiken (komunitas komik Institut Teknologi Bandung), serta Banji Studio yang juga turut membuka comic market yang menjual berbagai macam barang. Selain itu, sharing session “Pojok Diskusi: Komunitas Komik” juga telah mengumpulkan komunitas komik untuk berbagi pendapat mereka mengenai dunia komik. (ns/gn)

Foto: dok. Bidkom – Ditinfo

Upload pada 16 December 2019