Indonesia adalah negara dengan memiliki banyak perbedaan, baik dari adat istiadat, suku, agama, dan sebagainya. Untuk itu, Pusat Kajian Kebhinekaan dan Perdamaian (PKKP) Universitas Kristen Maranatha kembali mengadakan acara Peace Festival pada Jumat, 18 Oktober 2019. Peace Festival yang sudah empat kali diselenggarakan tiap tahunnya ini mengangkat tema “Kasih dan Keadilan untuk Indonesia Maju”. Acara ini diadakan di ruang Auditorium Prof. Dr. P. A. Surjadi, M.A. tidak hanya melibatkan mahasiswa UK Maranatha saja, tetapi juga terbuka untuk umum.

Ketua Panitia Peace Festival, Dra. Rosa Ackman Permanasari, M.Si. dalam kata sambutannya menjelaskan bahwa talk show dan seminar yang diadakan dalam acara ini akan mencoba untuk meneropong praktik antikeragaman yang membuat kita semakin menjauh dari perdamaian. Selain itu, kesempatan ini dapat mengingatkan kita kembali akan nilai keragaman, memupuk semangat demokrasi Pancasila pada integritas bangsa, dampak risiko positif dan negatif dari perkembangan teknologi terhadap kesejahteraan masa depan, dan langkah-langkah strategi dalam mewujudkan Indonesia sejahtera dan positif.

Rektor UK Maranatha, Prof. Ir. Armein Z. R. Langi, M.Sc., Ph.D. juga mengatakan bahwa dengan Peace Festival ini kita merayakan festival damai sejahtera. “Selamat merayakan damai sejahtera, mari kita membangun kapasitas kita untuk mewujudkan damai sejahtera dengan membangun sense keadilan dan kasih terhadap sesama,” ucapnya.

Anggota dari Ahli Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID), Yudi Latif, M.A., Ph.D. yang diundang untuk memaparkan seminar kebangsaan menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara yang luas dengan keragaman yang begitu banyak. Namun di balik itu, terdapat beberapa masalah dengan banyaknya orang Indonesia yang memiliki pengetahuan yang tinggi dan jiwa agama yang militan, tetapi tidak mengarah kepada arah positif melainkan destruktif. Melalui seminar kebangsaan ini, beliau memaparkan bagaimana menggunakan agama dan Pancasila dengan tujuan kebahagiaan. Diambil dari teori Martin Seligman, beliau menjelaskan lima kunci kebahagiaan yang juga mencerminkan nilai yang terkandung pada sila-sila Pancasila, yaitu PERMA. P=Positive Emotion, E=Engagement, R=Relationship, M=Meaningfulness, A=Achievement.

Selain itu, Peace Festival juga mengundang pembicara Alfianto Yustinova, Kepala Divisi Klarifikasi dan Diseminasi dari Jabar Sapu Bersih (Saber) Hoaks dan juga Ni Loh Gusti Madewanti, Koordinator Task Force Jawa Barat dan Direktur Eksekutif Droupadi. Dalam sesi pertama, Alfianto menjelaskan berbagai hal yang berkenaan dengan isu hoaks dan akrab dengan teknologi. Menurutnya hoaks adalah senjata konflik paling besar di era informasi. Beliau juga mengajak para hadirin untuk bersinergi dan berkolaborasi dalam memberantas hoaks bersama Jabar Saber Hoaks.

Sedangkan, Ni Loh membawakan talk show mengenai perempuan dan anak dalam pusaran ujaran kebencian. Beliau menjelaskan ujaran kebencian (hate speech) dalam era posttruth tidak lagi mempedulikan kebenaran, melainkan hal yang seolah-olah benar dan mengabaikan pembuktian empiris. Melihat kondisi tersebut saat ini yang memiliki dampak besar terhadap orang yang mengalaminya, beliau mengingatkan dan mengajak para hadirin untuk selalu menggunakan akal sehat serta mengedepankan empati dan kemanusiaan dalam berperilaku.

Acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai penampilan, seperti tarian tradisional dari mahasiswa Fakultas Psikologi, paduan suara Fakultas Hukum, Rame-rame Band dari karyawan dan mahasiswa UK Maranatha, dan AsKaRa (Apresiasi Seni Kelompok Anak Juara). Peace Festival kemudian dilanjutkan dengan acara Doa Bagi Bangsa yang diselenggarakan pada malam harinya. (ns)

Upload pada 22 October 2019