Pemerintah telah menetapkan kebijakan terbaru bagi perguruan tinggi melalui penerapan delapan indikator kinerja utama (IKU), salah satunya adalah kelas yang kolaboratif dan partisipatif. Demi memfasilitasi para dosen Universitas Kristen Maranatha mengaplikasikan indikator tersebut, Lembaga Pengembangan Kreativitas Akademik (LPKA) menyelenggarakan Workshop Implementasi Case Method and Team-Based Project. Workshop berlangsung selama dua hari pada tanggal 13-14 Juli 2021 secara virtual melalui Zoom.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Riset, Dr. Se Tin, S.E., M.Si., Ak., menyebutkan bahwa Maranatha terus berupaya untuk melakukan berbagai transformasi untuk sejalan dengan pencapaian delapan IKU. Melalui kolaborasi dengan banyak pihak, diharapkan dapat mengakomodasi terlaksananya pembelajaran yang kolaboratif dan partisipatif di setiap kelas. “Dosen sebagai ujung tombak proses pembelajaran, kita tentunya mengharapkan kontribusinya untuk boleh mengembangkan metode ini. Dosen perlu memiliki pemahaman dasar yang kuat mengenai case method and team based project, mengenali perbedaan, cara menuangkannya dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS), serta menyematkannya di dalam learning management system di Maranatha,” ujar Se Tin.

Pemateri yang dihadirkan adalah Wakhid Slamet Ciptono, M.B.A., M.P.M., Ph.D., dosen Departemen Manajemen, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Wakhid membagikan pengalaman dan ilmu yang telah disusun oleh tim pengajar UGM untuk diimplementasikan di tahun ajaran baru. Materi yang diberikan ia sampaikan sebagai tolok ukur bagi dosen Maranatha, berupa pembentukan pola pikir menjadi budaya pembelajaran, pembahasan pembelajaran berbasis Case Method and Team-Based Project, cara pengintegrasiannya, serta kriteria monitoring evaluasi.

Wakhid mengatakan, di era yang semakin mengandalkan revolusi sains dan teknologi, manusia harus mampu menciptakan nilai baru untuk meminimalisir adanya kesenjangan pada manusia dan masalah lainnya dikemudian hari. “Nilai akan menggerakkan sikap, sikap akan mendorong perilaku, perilaku akan mengembangkan budaya, dan budaya akan memperkuat nilai. Ini adalah lingkaran yang harus kita tegakkan di masyarakat Indonesia,” jelasnya.

Menurut Wakhid, program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) memberikan kedaulatan yang luas dan terarah bagi perguruan tinggi untuk meningkatkan kapabilitas mahasiswa melalui metode pembelajaran kasus dan proyek berbasis tim ini. Ia mengatakan, inti dari metode berbasis kasus ini mempertimbangkan mahasiswa sebagai individu protagonis yang berusaha untuk memecahkan kasus, menganalisis, mengembangkan, serta memberikan rekomendasi solusi alternatif. “Dosen disini hanya berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan proses diskusi yang produktif, memberikan pertanyaan dan penilaian selama proses observasi individual, grup, dan class learning process,” jelas Wakhid. (sg/gn)

 

Foto: dok. Lembaga Pengembangan Kreativitas Akademik

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 22 September 2021