Setiap orang tentu tidak asing mendengar kata saham. Namun, tidak sedikit yang masih belum mengetahui dan memahami apa itu saham. Hal ini yang dibahas dalam penutupan Webinar Series Program Sarjana Manajemen bersama Direktorat Pemasaran Universitas Kristen Maranatha pada hari Jumat, 26 Juni 2020. Dengan topik bahasan “Kuliah Bukan Cuman Paham tapi juga Punya Saham”, acara ini mengundang dua pakar saham, yaitu Dosen Fakultas Ekonomi, Yani Monalisa, S.E., M.M. dan Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Barat, Reza Sadat Shahmeini, S.E., M.M.

Pada dasarnya, masyarakat memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap saham. Yani menjelaskan, ada yang memandang saham itu sulit, modalnya harus besar, terlalu berisiko, dan lain-lain. Sebelum memulai investasi saham, sangat penting untuk mengetahui apa yang kita beli dan membeli apa yang kita ketahui. Bagi pemula, Yani membagikan pengetahuan produk yang cocok untuk berinvestasi, seperti logam mulia, obligasi, reksa dana, dan juga saham. Sebagai tambahan, ia pun menerangkan cara memilih saham berdasarkan Index In IDX.

Sementara itu, pengertian saham juga dijelaskan oleh Reza, “Saham adalah bukti kepemilikan suatu perusahaan”. Secara sederhana, Reza mengibaratkan investasi saham seperti menanam pohon. “Menanam pohon itu tidak bisa main asal tanam bibit, harus dipilah dulu bibitnya,” katanya. Artinya, tidak semua perusahaan memiliki prospek yang bagus, terutama saat bertahan ketika pandemi. Oleh sebab itu, memantau kinerja, melihat laporan keuangan dan pergerakan saham adalah hal yang penting. Selain itu, Reza juga menjelaskan perbedaan technical analyst dan fundamental analyst.

Investasi saham tentu memiliki keuntungan, tetapi juga memiliki risiko. Reza menjelaskan, keuntungan yang diberikan dalam kepemilikan saham meliputi capital gain; corporate action, yang berarti pembagian keuntungan perusahaan (dividen) dan bonus share; serta terlibat dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Sedangkan risiko berinvestasi saham dapat berupa capital loss, tidak memperoleh dividen, dan pailit (bangkrut). Hal yang sama pun dijelaskan oleh Yani mengenai risk and return. “Ingat! High risk high return,” tutur Yani.

Materi saham dan sosialisasi pasar modal juga turut dilakukan oleh Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (GIBEI) Maranatha di bawah naungan Fakultas Ekonomi. GIBEI Maranatha sebagai pusat informasi dan edukasi pasar modal telah menorehkan prestasi dalam nilai transaksi terbesar selama empat tahun berturut-turut. Dekan Fakultas Ekonomi, Tan Ming Kuang, S.E., M.Si., Ak., Ph.D. dalam kata sambutan menerangkan bahwa selama kuliah bukan hanya ilmu yang didapat, mahasiswa jugamemiliki kesempatan untuk memiliki saham. “Saham adalah investasi yang menarik. Melalui GIBEI Maranatha, rekan-rekan memiliki kesempatan untuk investasi saham dan belajar detailnya,” katanya.

Baca juga: Galeri Investasi BEI Maranatha Capai Prestasi Nilai Transaksi Terbesar Empat Tahun Berturut-turut  

Yani menjelaskan meskipun sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai investasi, bukan berarti kita dapat langsung membeli saham dari banyak perusahaan. Faktor yang sudah dijelaskan sebelumnya harus menjadi pertimbangan dalam membeli saham. (ns/gn)

Foto: dok. Bidkom – Ditinfo

Upload pada 30 June 2020