Setelah berhasil menarik peminat dalam webinar mengenai Parenting Education on Marriage pada bulan Juni lalu, Program Magister Psikologi Sains Universitas Kristen Maranatha kembali menggelar webinar bertajuk Webinar Series 2: Parenting Education on Marriage and Family pada Sabtu, 11 Juli 2020. Webinar kali ini menghadirkan dua dosen Magister Psikologi Maranatha sebagai narasumber. Mereka adalah Dr. O. Irene P. Edwina, M.Si., Psikolog dan Dr. Ria Wardani, M.Si., Psikolog.

Baca juga: Mahasiswa Magister Psikologi Sains Bagikan Ilmu Mengenai Marriage & Parenting

Pada sesi pertama, Irene membawakan materi berjudul “Keluarga yang Adaptif Dalam Menghadapi Situasi Sulit”. Ia mengatakan, keluarga merupakan suatu sistem yang saling mempengaruhi, interdependent, serta dasar untuk hidup dan perkembangan manusia. Ia menggambarkan fungsi keluarga seperti sebuah rumah yang memiliki atap (pelindung), pilar (penopang), dan fondasi (memberikan dasar kokoh, seperti kasih, nilai moral, dan pembelajaran). Keluarga juga menjadi faktor yang signifikan atau penting. Keluarga juga tidak lepas dari adversity (tekanan pada keluarga), contohnya seperti kondisi ekonomi, konflik keluarga, kesehatan, serta hubungan antara orang tua dan anak. Manusia tidak akan lepas dari tekanan, tetapi kita harus fokus pada solusi permasalahan, mencoba beradaptasi, dan kemudian berkembang.

Irene kemudian melanjutkan, orang yang stres mengalami mental yang terganggu. Orang yang sedang mengalami hal ini memiliki pemikiran yang kurang fokus, produktivitas menurun, emosi cenderung negatif, fisik terganggu. Setiap orang dapat menghayati tekanan secara berbeda kerena hal ini bersifat individual. Hal ini dipengaruhi cara berpikir, pengalaman, support dukungan.

Ada tiga hal yang perlu dimiliki atau dilakukan untuk menciptakan family resilience atau ketahanan keluarga. Pertama adalah memiliki sistem keyakinan, seperti cara memaknai kesulitan, pandangan positif, harapan, dan spiritualitas. Hal kedua adalah pola hubungan dalam keluarga, seperti fleksibilitas dalam fungsi, keterhubungan emosional, sumber daya sosial dan ekonomi, serta saling mendukung. Ketiga adalah komunikasi dalam keluarga, artinya kejelasan dan pemahaman informasi, kenyamanan untuk mengungkapkan emosi, dan kemampuan untuk menyelesaikan masalah.

Irene menyatakan, orang yang sehat mental itu memiliki tujuan hidup, menemukan makna hidup, emosi positif lebih dihayati lebih banyak daripada emosi negatif, memiliki relasi positif dengan keluarga dan lingkungan, produktif, serta memiliki rasa diri berharga.

Ria Wardani sebagai pembicara kedua membawakan materi mengenai “Sarang Kosong & Pertumbuhan Pribadi”. Ia menerangkan, dalam suatu keluarga ada suatu peristiwa yang penting, salah satunya dalah momen melepaskan anak yang sudah besar untuk memasuki kehidupan orang dewasa yang mengharuskan para orang tua melakukan adaptasi atas ketiadaan anak-anak di rumah. Ria menggambarkan hal ini sebagai “sarang kosong” atau “empty-nester”. Hal ini menurutnya memiliki dampak pada orang tua yang ditinggalkan.

Orang tua yang mengalami hal ini diduga akan mengalami kekosongan dengan ditandai menurunnya tingkat kepuasan perkawinan. Namun, menurut riset, bagi sebagian besar orang tua yang mengalami fase ini tidak mengalami penurunan kepuasan perkawinan. Menurut penelitian, peralihan menuju sarang kosong meningkatkan kualitas perkawinan. “Seiring dengan kepergian anak meninggalkan rumah, individu memiliki waktu lebih banyak untuk dihabiskan bersama pasangan yang selama ini tidak bisa dilakukan karena kesibukan mengurus anak,” jelas Ria.

Menurut penelitian yang dilakukannya, Ria berpendapat, “Pertumbuhan pribadi akan memberikan kontribusi terbesar terhadap psychological well-being kepada ibu empty-nester”. Pertumbuhan pribadi atau personal growth ini merujuk pada kemampuan individu untuk mewujudkan potensi dan bakat dalam upaya untuk mengembangkan sumber daya baru. Hal ini juga dapat melibatkan kesulitan yang dihadapi dan menuntut individu untuk mengerahkan inner strength-nya.

Ria akhirnya mengatakan, orang tua yang mengalami empty-nester ini dapat menyiasatinya dengan melakukan aktivitas untuk mengeksplorasi potensi dan sumber daya baru untuk menjadi fully functioning person. (gn)

Upload pada 15 July 2020