Perubahan situasi pandemi Covid-19 pasti dirasakan oleh semua orang, tanpa memandang jenis pekerjaan, suku, negara, dan lainnya. Situasi ini tentu dirasa sebagai kondisi yang menyeramkan dan menyulitkan. Akan tetapi, kondisi ini tidak menghalangi sejumlah orang untuk berproduktivitas. Sama seperti yang dibagikan oleh dua narasumber Diskusi Seni Rupa, Ketua Program Sarjana Seni Rupa Murni Universitas Kristen Maranatha, Dr. Ismet Zainal Effendi, M.Sn. dan seniman silk-painting, John Martono, M.Sn. Mereka membagikan pengalamannya pada Sabtu, 18 Juli 2020 melalui acara yang mengambil tema “Melawan Corona dengan Karya”. Diskusi ini juga merupakan rangkaian acara dari Pameran Donasi “I Care Therefore I Exist”.

Baca juga: Pameran Virtual Pertama FSRD Tampilkan 44 Karya Seni        

Kedua narasumber mengakui, mereka tetap memiliki kesibukan yang sama seperti sebelum adanya pandemi. “Situasinya saja yang berbeda. Sekarang kita tidak bisa bertemu secara fisik,” ucap John. Ismet pun berpendapat, situasi ini hanya membatasi ruang gerak para seniman.

John menceritakan, aktivitas sehari-harinya sebagai seniman adalah melukis dan menciptakan karya, dan hal itu tidak berubah. Namun, pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB), medium atau alat-alat yang digunakannya untuk menciptakan karya menjadi lebih bervariasi. Contohnya adalah penggunaan besi, seng, dan lain-lain. “Saya merasa bahwa setiap medium punya keunikan yang bisa digali dan diciptakan, sama seperti pencipta seni rupa yang berupa-rupa,” tuturnya.

John yang juga merupakan dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB) mengatakan, situasi ini memang memiliki tantangan dari segi pendidikan. Saat mengajarkan pengetahuan mengenai tekstil, ia mengakui bahwa kain tekstil lebih mudah dijelaskan jika mahasiswa bisa menyentuh kain tersebut secara langsung. “Ketika kita meraba kain tekstil, kita bisa mengetahui tekstur dari tekstil tersebut,” jelasnya.

Berbeda dengan John, pada mulanya Ismet mengakui kesal terhadap situasi dan virus Corona ini. Namun, virus Corona selalu terlintas dalam benaknya. “Di pikiran saya, saya penasaran dengan wujud virus ini seperti apa. Lalu, saya terinspirasi dan imajinasi saya selalu mengarah pada sosok virus Corona ini,” ungkap Ismet. Oleh karena itu, ia menggunakan berbagai macam media untuk menggambar wujud virus Corona yang berbeda-beda. Karya inilah yang berhasil dipamerkan dalam Pameran Virtual Seni Rupa Donasi Penanggulangan Covid-19.

Bermula dari kekesalan dirinya, Ismet justru membuat terobosan baru dengan membuat karya yang terinspirasi dari wujud virus Corona. “Situasi pandemi ini bukan menciutkan kreativitas saya, tetapi saya justru mendapat inspirasi yang lebih banyak daripada biasanya,” ujar Ismet.

Melihat pengalaman, kedua narasumber ini berpendapat bahwa seni rupa memiliki sifat yang lentur. “Seni rupa bisa membahasakan zamannya,” ujar mereka. Tidak pernah terbayangkan oleh Ismet, bahwa dirinya menggunakan virus Corona sebagai inspirasi dalam membuat sebuah karya.

Di akhir acara, John berpesan kepada peserta untuk tetap menjaga komunikasi dengan sesama, menjaga pikiran, dan juga kesehatan. Sesudah itu, Ismet berpesan, “Jangan kita kalah dengan virus ini, tetapi bersahabat dengan virus ini! Jangan berhenti berkarya!” (ns/gn)

Foto: dok. Bidang Media & Komunikasi – Dir. Administrasi & Komunikasi Universitas

Upload pada 21 July 2020