Umumnya mahasiswa tingkat akhir kerap mendengar berbagai pernyataan ketika nantinya mereka hendak melamar pekerjaan. Pernyataan yang tidak benar terkadang akan menjadi suatu kepercayaan dan kemudian menimbulkan kekhawatiran kepada pencari kerja. Untuk meluruskan mitos-mitos tersebut, Program Sarjana Teknik Industri Universitas Kristen Maranatha bersama PT Kapal Api Global (KAG), Jakarta menyelenggarakan kegiatan webinar series pada Senin, 13 Juli 2020. Bertajuk Workplace Mythbusters: Kupas Tuntas Mitos Seputar Dunia Kerja, webinar ini diikuti sekitar 145 peserta dari berbagai fakultas yang ada di UK Maranatha.

Organization and People Development Manager Kapal Api Global, Fortunella, sebagai pembicara utama menjelaskan tiga mitos yang sering didengar mahasiswa atau fresh graduate saat menghadapi dunia kerja. Pernyataan pertama adalah bahwa seorang fresh graduate tidak punya pengalaman dan perlu banyak diajari. Menurutnya, pernyataan ini hanya mitos belaka, karena lulusan baru ternyata bisa memiliki banyak pengalaman. Mahasiswa bisa memperoleh pengalaman dengan mengikuti program internship/magang, atau mengikuti kompetisi untuk menambah nilai tambah. Jika tidak sempat juga, mahasiswa harus memiliki pola berpikir yang bertumbuh (growth mindset).

Menurutnya, pola pikir ini mendorong untuk terus belajar dan melihat tantangan sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Untuk memiliki pola pikir bertumbuh ini, Fortunella membagikan empat cirinya, yaitu Resourceful (menemukan sumber yang membantu menyelesaikan target), Optimistic (pandangan hidup optimis dan tidak mudah menyerah), Curious (rasa ingin tahu untuk belajar lebih lanjut), dan Initiative (insiatif tinggi ditandai dengan berkarya).

Mitos kedua adalah bahwa bekerja itu harus sesuai dengan jurusan kuliah. Dikatakan sebagai mitos karena ternyata banyak posisi pekerjaan di KAG diisi oleh karyawan yang tidak sesuai dengan pendidikannya di kuliah. Menurutnya, mahasiswa yang ingin bekerja di luar dari jurusannya harus memiliki satu konsep yang bernama Transferable Skills. Konsep ini adalah keahlian-keahlian penting yang dapat di transfer dan digunakan pada berbagai posisi. Contoh dari transferable skills adalah kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir kritis, kemampuan berpikir kreatif, dan kemampuan berbahasa asing.

Mitos terakhir yang ia sampaikan adalah bahwa teori itu tidak sama dengan praktik atau kenyataan yang kita hadapi sehari-hari. Teori menurutnya masih digunakan di dunia kerja, tetapi disebutkan dengan istilah lain, seperti Framework (kerangka berpikir), tools  (pedoman), atau konsep. Ada berbagai framework yang sering dipakai di dalam pekerjaan ataupun untuk meningkatkan kesadaran diri dan prioritas seseorang, seperti SWOT (Strengths, Weakness, Oportunities, Threats) dan Eisenhower Matrix untuk manajemen waktu.

“Sebuah teori dibuat sesuai dengan konteks pada zaman tersebut. Ada kalanya perubahan fenomena dan perkembangan teknologi membuat teori tersebut menjadi tidak relevan lagi dengan masa kini. Faktanya teori atau framework yang relevan masih digunakan di dunia kerja. Oleh karena itu, jangan mendiskreditkan pengalaman kuliah karena teori diciptakan sesuai dengan konteksnya pada saat ini,” jelas Fortunella.

Ketua Program Sarjana Teknik Industri, Christina, S.T., M.T. yang hadir dalam webinar series ini merasa bersyukur dengan kesempatan yang diberikan oleh KAG untuk menjelaskan seperti apa dunia kerja itu sebenarnya dan mitos-mitos yang ada kepada mahasiswa. “Kita berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut karena melalui acara ini mahasiswa dapat link and match antara teori yang diajarkan oleh dosen dengan praktik yang sudah ada,” kata Christina menutup sambutannya. (sg/gn)

Upload pada 16 July 2020