Universitas Kristen Maranatha berkesempatan menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan Kuliah Umum dan pemutaran film pendek yang dilaksanakan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia pada hari Kamis, 14 Maret 2019. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan The First Indonesia-Australia Interfaith Dialogue yang sehari sebelumnya telah digelar di Hotel De Paviljoen, Bandung. Sekitar 150 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, hingga staf UK Maranatha turut hadir memenuhi ruang Exhibition Hall, Gedung B lantai 1 di mana acara ini diselenggarakan.

Sebelum kegiatan dimulai, Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gary Quinlan dan delegasi dari Australia yang terdiri dari pejabat pemerintahan, tokoh dan intelektual keagamaan berkesempatan untuk mengunjungi Museum Maranatha dan berdiskusi secara singkat mengenai sejarah Universitas dengan Rektor Universitas Kristen Maranatha, Prof. Ir. Armein Z. R. Langi, M.Sc., Ph.D.

Memasuki sesi kuliah umum, Prof. Armein  secara resmi menyambut dan mengucapkan rasa terima kasihnya atas kesempatan yang diberikan Kementrian Luar Negeri melalui Direktorat Jendral Informasi dan Diplomasi Publik, untuk menyelenggarakan acara ini di kampus Maranatha. “Semoga melalui kegiatan diskusi kali ini kita dapat semakin terbuka pikiran akan adanya pluralisme di dunia dan menambah pengetahuan secara spiritual dan tentu saja diharapkan dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata bagi masyarakat sekitar,” tutupnya. Universitas Kristen Maranatha kemudian menyerahkan tanda mata sebagai bentuk apresiasi kepada Gary Quinlan dan Aziz Nurwahyudi, Direktur Diplomasi Publik.

Kuliah umum dengan topik “The Use of Social Media for Interfaith Dialogue and Spreading Peace” dibawakan oleh Dr. Zuleyha Keskin, Director of the Melbourne Branch of Islamic Sciences and Research Academy (ISRA). Sesi ini dipimpin oleh Tich Quang Ba yang merupakan National Elders Council for Sangha Association of Australia sebagai moderator.

Dalam memaparkan materinya, Dr. Keskin menjelaskan bahwa agama sering dijadikan alasan timbulnya perang dan konflik, padahal sebenarnya agama di dunia mengajarkan cinta kasih. Ada cara untuk menciptakan perdamaian tersebut, yaitu melalui keadilan sosial, pendidikan, dan dialog antaragama dan antarbudaya melalui media sosial. Pengguna media sosial yang sangat tinggi saat ini berpotensi untuk menyebarkan informasi menjadi lebih cepat, baik informasi yang benar maupun yang salah. “Pada saat kita menggunakan media sosial, kita harus memiliki sikap hormat pada setiap pendapat dan opini, berempati pada berbagai situasi, berada kepada lingkungan yang berdampak baik bagi kita, dan tentu saja melakukan tindakan positif dengan menggunakan kekuatan media sosial, seperti membagikan pesan-pesan yang membangun,” ungkap Dr. Keskin.

Selesai mendengarkan pemaparan dari Dr. Keskin, peserta diajak untuk menyaksikan sebuah film dokumenter pendek berjudul “Da’wah” yang disutradarai oleh sutradara asal Italia yang beragama Katolik, Italo Spinelli, yang berkisah tentang kehidupan sehari-hari para santri di sebuah pesantren di Indonesia. Sesi ini diikuti dengan sesi diskusi oleh Dr. Keskin dan Pdt. Yohanes Bambang M., M.Th. selaku Pendeta Universitas Kristen Maranatha. Sesi ini sekaligus menjadi penutup rangkaian acara di kampus Maranatha.

Rombongan Kedutaan Besar Australia beserta delegasinya kemudian melanjutkan perjalanan mereka dengan menginjungi Gang Ruhana (Desa Toleransi) dan Masjid Lautze. Kunjungan tersebut bertujuan untuk memperkenalkan dan memberi gambaran tentang kondisi nyata keharmonisan antarumat beragama dalam bermasyarakat di Indonesia. (sg/gn)

Upload pada 15 March 2019