Pemerintah mewajibkan masyarakat untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Hal ini diungkapkan oleh juru bicara pemerintah untuk penanganan wabah corona, Achmad Yurianto (Yuri) pada konferensi pers di kantor BNPB (Sabtu, 4/4/2020). Penggunaan masker untuk semua orang baik sehat maupun sakit, sesuai dengan anjuran WHO (World Health Organization) baru-baru ini. Sebelumnya, WHO merekomendasikan penggunaan masker hanya untuk orang yang sakit.

Yuri meminta agar masyarakat menggunakan masker kain, dan menekankan bahwa masker bedah dan N95 diwajibkan untuk penggunaan bagi tenaga medis. Wiku Adisasmito, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dalam kesempatan tersebut menjelaskan bahwa masker kain sebaiknya terdiri dari tiga lapisan, sehingga lebih efektif menyaring droplet yang menjadi cara penularan virus.

Baca juga: Salah Pakai Masker, Risiko Penularan Virus Tetap Tinggi

Menanggapi hal tersebut, Dekan Fakultas Kedokteran UK Maranatha, dr. Lusiana Darsono, M.Kes. menyatakan bahwa perkembangan penularan Covid-19 saat ini terus meningkat, dan tidak mudah mendeteksi seseorang yang sudah terinfeksi positif. “Cukup sulit untuk mendeteksi apakah seseorang positif terinfeksi virus, karena perlu pemeriksaan lanjutan,” jelasnya. Sangat dimungkinkan adanya orang yang terinfeksi virus, tetapi tanpa menunjukkan gejala. “Oleh sebab itu, imbauan pemerintah yang semula masker hanya digunakan untuk orang sakit, sekarang diwajibkan untuk semua masyarakat terutama saat keluar rumah. Tindakan ini untuk mengurangi penularan, dan diharapkan dapat menurunkan jumlah orang yang terjangkit,” ungkap Lusiana.

Masker kain boleh digunakan masyarakat umum, tetapi tidak untuk tenaga medis atau petugas yang langsung berhubungan dengan pasien. Lusiana mengatakan, “Masker kain dapat digunakan selama empat hingga enam jam, boleh dicuci dan dipakai lagi. Tiap hari harus dicuci.” Ia juga mengingatkan agar masyarakat tetap berhati-hati ketika menggunakan masker. “Jangan memegang permukaan masker, dan jangan menyentuh mulut, hidung, dan mata, karena ketiganya merupakan jalur masuk virus ke tubuh manusia,” tegasnya.

Sementara itu, menanggapi meningkatnya kebutuhan masker bagi masyarakat umum, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) melalui Program Fashion Design (Program Diploma Seni Rupa dan Desain) telah menginisiasi gerakan pembuatan masker dalam jumlah besar. Para dosen, mahasiswa, dan alumni memproduksi masker kain dalam jumlah banyak, untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar kampus. Dekan FSRD UK Maranatha, Irena V. G. Fajarto, M.Com. mengatakan, “Masker juga akan didistribusikan ke beberapa kota di Jawa Barat, melalui AAB (Arisan Antar Benua) bekerja sama dengan Tim Ahli Jawa Barat Juara (TAJJ) dan Bandung Creative City Forum (BCCF).”

Baca juga: Maranatha Produksi Face Shield 3D Printing untuk Donasi APD Tim Medis

Tidak hanya memproduksi masker, FSRD Maranatha juga mengajak masyarakat untuk dapat membuat masker sendiri. Ajakan ini diserukan melalui media sosial, dan melalui video tutorial “Cara Cepat Membuat Masker dalam Jumlah Banyak”. Video yang dibuat oleh dosen Fashion Design FSRD Maranatha itu juga dibagikan dalam rangka mendukung aktivitas belajar dan bekerja dari rumah. (ins/pm)

Upload pada 6 April 2020