Seratus orang tua yang memiliki anak usia 5-12 tahun mengikuti talk show bertajuk “Mengoptimalkan Kecerdasan dan Potensi Anak Usia 5-12 Tahun”. Acara yang berlangsung secara daring pada 18 Maret 2022 ini terselenggara berkat kerja sama Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha dengan SDK Yahya, Bandung. Kegiatan ini juga termasuk dalam program pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa Psikologi Maranatha, yakni Indah Puspitasari, M.Psi., Psikolog; Dra. Lidwina Wahyu Widayati, Psikolog; serta Leony Gabryella.

Masa pertumbuhan anak adalah krusial untuk orang tua karena di fase ini mereka harus jeli dalam mengenali potensi dan kecerdasan yang dimiliki setiap anak. Menurut Indah, kecerdasan bukanlah sesuatu untuk dibandingkan satu sama lain karena hal itu bukan hanya tentang akademik saja, melainkan ada hal-hal lain yang berhubungan dengan linguistik, kinestesis, kognitif, intrapersonal, dan interpersonal. “Oleh karena itu, orang tua harus memahami bahwa setiap anak adalah unik dan bisa mengembangkan kecerdasan yang menonjol pada sang anak,” tutur Indah.

Anak umur 5-12 tahun memiliki perkembangan berbeda dengan usia di bawahnya. Pada fase ini, perkembangan anak banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Mereka mulai banyak melakukan proses eksplorasi yang kemudian akan membentuk identitas diri, nilai-nilai dan kebiasaan. “Untuk menstimulasi perkembangan potensi dan kecerdasan anak, tidak cukup hanya dari keluarga saja, dibutuhkan lingkungan sosial lainnya, seperti sekolah agar perkembangannya bisa berjalan dengan baik,” kata Indah menambahkan.

Lidwina memaparkan bahwa sekolah yang ideal harus bisa menghargai keunikan anak, serta menstimulasi aspek-aspek intelektual, emosional, mental, sosial, moral, artistik, dan fisik anak dengan seimbang. Oleh sebab itu, pemilihan sekolah bagi anak pun harus tepat dan sesuai dengan kebutuhan.

Dalam kata penutupnya, Lidwina berpesan bahwa untuk menghadapi era perubahan yang cepat seperti saat ini, orang tua harus membekali anak dengan tiga sikap yang penting, yaitu menerima anak apa adanya, tetap mengungkapkan cinta kasih, dan akui setiap capaian prestasi di bidang apapun. Hal ini akan membentuk rasa bahagia pada anak yang akan menjadi modal dalam menghadapi dunia di masa yang akan datang. (ew/gn)

 

Foto: dok. Fakultas Psikologi

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 29 April 2022