Di masa pandemi ini, berjalan-jalan ke luar negeri dirasa mustahil dan sulit untuk dilakukan. Ruang gerak kita untuk berjalan-jalan pun menjadi terbatas. Uniknya, Pusat Bahasa Mandarin (PBM) Universitas Kristen Maranatha mencetuskan acara PBM Virtual Tour ke beberapa kota di Tiongkok. Acara ini diselenggarakan secara online melalui platform Zoom dan terbagi menjadi beberapa seri. PBM Virtual Tour dimulai dari tanggal 27 Juni 2020 mengunjungi Kota Guilin, 4 Juli ke Kota Wuhan, 11 Juli ke Kota Shanghai, 18 Juli ke Kota Beijing, 25 Juli ke Kota Nanjing, dan tour terakhir pada 1 Agustus ke Kota Shijiazhuang.

“Tujuan PBM Virtual Tour adalah untuk memperkenalkan kota-kota Tiongkok, termasuk tempat wisata dan juga makanan-makanan khas daerah tersebut,” jelas Direktur PBM, Noviana Laurencia, B.A., M.Lit. Acara ini juga terbuka bagi umum dan tidak dipungut biaya apapun. Selain itu, di dalam bahan penjelasan tertera beberapa kosa kata bahasa Mandarin untuk membangkitkan minat peserta dalam mempelajari bahasa Mandarin. Dengan adanya acara ini, PBM Maranatha berharap agar Virtual Tour bisa menghibur masyarakat, khususnya para siswa dan mahasiswa yang belum sempat berpergian ke luar negeri karena pandemi. “Semoga pandemi ini segera berlalu sehingga summer camp dan winter camp yang biasa diadakan setiap tahunnya bisa segera berjalan kembali,” ungkap Novi.

Setiap kota-kota yang dijelaskan tentunya memiliki ciri khas pada kawasan wisata, makanan, dan masih banyak lagi. Sama seperti keunikan dari tujuan destinasi kelima PBM Virtual Tour, yaitu kota Nanjing. Dahulu, kota Nanjing pernah menjadi ibu kota Tiongkok. Maka dari itu, terdapat tempat wisata bersejarah yang menyimpan banyak cerita. Hal ini dijelaskan oleh Dosen D-III Bahasa Mandarin UK Maranatha, Diana C. Sahertian, M.A. dan Alumnus Nanjing University of Arts, Gabriela Karongkong, B.F.A.

Melalui acara ini, mereka mengajak peserta seakan-akan berkeliling di kawasan wisata Nanjing selama tiga hari dengan spot wisata yang berupa-rupa. Tidak hanya itu, beberapa poin, seperti biaya tiket masuk, estimasi durasi yang dibutuhkan, jam operasional tempat wisata, dan lain-lain, turut disampaikan oleh kedua narasumber.

Hari pertama, peserta diajak berkeliling di Zhong Shan Ling yang merupakan makam Sun Yat Sen, Ming Xiaoling Mausoleum yang merupakan makam kaisar terbesar di Tiongkok, Imperial Examination Museum of China, dan Confucius Temple – Qinhuai River Scenic Area. Selain itu, peserta diajak melihat salah satu restoran terkenal di Nanjing, yaitu Nanjing Impressions. Restoran ini menyediakan makanan khas Nanjing dan memiliki beberapa keunikan. “Biasanya kalau di restoran yang menyambut pelanggan adalah anak muda, tetapi di sini para kakek dengan memakai baju tradisional yang menyambut kita,” jelas Gaby. Restoran ini juga menghibur tamu dengan penampilan lagu Tiongkok pada jam makan malam.

Selanjutnya, hari kedua peserta diajak ke Jiming Temple, Xuanwu Lake, Memorial Hall (Datusha Jinianguan), Nanjing Eye Footbridge, dan area Xinjiekou. Diana mengungkapkan bahwa Memorial Hall merupakan kawasan wisata yang wajib dikunjungi. “Memorial Hall dirikan untuk mengenang salah satu peristiwa menyedihkan dalam Perang Dunia ke-2, yaitu pembantaian massal oleh tentara Jepang setelah menguasai wilayah Tiongkok,” ucap Diana. Selain itu, terdapat dua pesan yang ingin disampaikan melalui Memorial Hall ini. “Jadikan apa yang terjadi di masa lalu untuk pembelajaran dan utamakan perdamaian, tidak berdendam,” jelas Diana.

Di hari terakhir, peserta diajak mengunjungi Foding Gong atau Foding Palace, dan kawasan pusat perbelanjaan bernama Laomendong. Tidak lupa, oleh-oleh khas Nanjing juga turut disampaikan oleh kedua narasumber. Oleh-oleh Nanjing yang terkenal adalah Yu Hua Cha atau teh hijau, serta Ya atau salted duck. (ns/gn)

Foto: dok. Bidang Media & Komunikasi – Dir. Administrasi & Komunikasi Universitas

Upload pada 30 July 2020